JATENGKU.COM, Semarang – Mahasiswa Magang Kependidikan dari Universitas PGRI Semarang tahun 2026 telah dilaksanakan kegiatan sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dengan fokus utama pada mitigasi bencana gempa bumi di SMAN 13 Semarang. Kegiatan ini difasilitatori sepenuhnya oleh mahasiswa magang kependidikan dari Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang beranggotakan 11 orang.
Sosialisasi berlangsung di ruang aula sekolah dan diikuti oleh seluruh warga sekolah, termasuk para guru, staf tata usaha, serta perwakilan peserta didik dari setiap kelas. Materi yang disampaikan meliputi Pengenalan Jenis-Jenis Gempa Bumi, Tanda-Tanda Awal Bencana, Jalur Evakuasi, Serta Prosedur Perlindungan Diri Saat Gempa Terjadi.

Antusiasme peserta terlihat tinggi selama sesi tanya jawab, banyak peserta didik yang aktif menanyakan langkah-langkah praktis yang harus dilakukan jika gempa terjadi saat mereka berada di lantai atas gedung sekolah. Tidak hanya itu, siswa yang aktif bertanya saat sesi tanya jawab akan mendapatkan hadiah dari mahasiswa sebagai upaya meningkatkan antusias siswa saat kegiatan berlangsung. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap dampak perubahan iklim serta pentingnya menjaga lingkungan sekitar.

Di hari berikutnya, pada hari Senin, 6 April 2026, Mahasiswa Magang Kependidikan Universitas PGRI Semarang tahun 2026, kembali melakukan kegiatan simulasi SPAB gempa bumi di SMAN 13 Semarang. Kegiatan ini merupakan rangkaian acara yang dimulai dengan kegiatan sosialisasi SPAB kemudian dilanjutkan dengan simulasi bencana. Kegiatan ini sebagai upaya implementasi secara langsung tentang mitigasi bencana gempa bumi. Simulasi SPAB ini diikuti oleh Tim Ekstrakurikuler Pramuka dan Tim PMR.
Kegiatan SPAB Gempa Bumi dimulai dengan pembunyian sirine peringatan yang menandakan terjadinya gempa, diikuti oleh tim Pramuka yang mempraktikkan prosedur berlindung di bawah meja, melindungi kepala, dan menunggu hingga guncangan reda. Setelah itu, proses evakuasi dilakukan secara terarah menuju titik kumpul aman di lapangan terbuka halaman sekolah.

Setiap peserta didik didampingi oleh guru dan mahasiswa magang yang bertugas mengawasi jalannya evakuasi, memastikan tidak ada yang panik, serta mencatat waktu tempuh dari ruang kelas hingga ke titik kumpul. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sebagian besar kelas mampu melakukan evakuasi dalam waktu kurang dari 3 menit, meskipun masih ditemukan beberapa kendala seperti adanya peserta didik yang berlari saling mendorong dan lupa membawa tas berisi perlengkapan darurat.
Setelah simulasi selesai, tim mahasiswa magang UPGRIS bersama pihak sekolah mengadakan sesi evaluasi singkat untuk mengidentifikasi kekurangan dan memberikan masukan perbaikan, seperti perlunya papan petunjuk jalur evakuasi yang lebih jelas dan pembiasaan simulasi secara rutin setiap bulan.






