JATENGKU.COM, SEMARANG — Dalam rangka mengembahkan pengelolaan lahan yang berkelanjutan, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Tematik (KKN-T) IDBU TIM 32 dari kelompok 2 Universitas Diponegoro (UNDIP) melakukan pengabdian di Desa Mluweh, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang dengan tema Pemeliharaan Tanaman Budidaya Pada Lahan Demplot di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Wanadipa UNDIP.
Pemeliharaan tanaman budidaya merupakan aspek yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan tanaman yang meliputi penyiraman, pemupukan, pengendalian hama, penyiangan, dan pengukuran pertumbuhan tanaman setiap minggu sekali. Serangkaian program kerja terintegrasi dengan tujuan untuk mendukung ketahanan pangan dan penguatan ekonomi masyarakat sekitar dengan berbagai program terpadu yang inovatif.
Seluruh rangkaian program kerja ini sebelumnya diinisiasi oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Tematik (KKN-T) Universitas Diponegoro Tim 32 Kelompok 2 Tahun 2025 dengan hadir di Desa Mluweh untuk mengimplementasikan pengabdian masyarakat dalam bentuk program terpadu pemeliharaan tanaman budidaya yang bersifat praktis dan berkelanjutan diawali dari pemetaan lahan hingga pengolahan hasil panen dan produk usaha masyarakat yang bersifat praktis dan efektif.
Kegiatan dimulai dari Rizal selaku mahasiswa teknik geologi, yang melakukan analisis kondisi geologi di kawasan KHDTK Wanadipa Undip, khususnya di wilayah sekitar Desa Mluweh. Dalam hal ini, Rizal melakukan pengamatan terhadap jenis batuan serta karakteristik tanah yang berpengaruh terhadap kestabilan lahan yang kemudian disusun menjadi peta lokasi strategis sebagai titik rekomendasi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya berkelanjutan maupun pengembangan kawasan infrastruktur awal agrowisata. Selanjutnya, mahasiswa KKN-T IDBU Tim 32 Kelompok 2 mulai melakukan penanaman kopi pada daerah yang telah direkomendasikan.
Melanjutkan tahap ini Abhi, mahasiswa bahasa dan kebudayaan Jepang memperkenalkan adaptasi teknik pertanian Jepang sebagai pendekatan inovatif dalam pemeliharaan tanaman di KHDTK Wanadipa Undip. Inisiatif ini didorong oleh kebutuhan akan sistem pertanian yang lebih presisi, efisien, dan berkelanjutan. Melalui integrasi prinsip Kanban Farming, pemanfaatan sensor IoT untuk pemantauan kelembaban tanah, serta pengolahan limbah berbasis metode Kaizen, pendekatan ini mampu menjawab berbagai tantangan yang ada di lapangan, mulai dari ketergantungan terhadap input kimia hingga pengelolaan limbah yang belum optimal.
Setelah itu Dahlia, mahasiswa peternakan menghadirkan inovasi pemanfaatan limbah hijauan (jerami, rumput, gulma hutan) yang dianggap sampah menjadi silase pakan ternak dan kompos organik untuk pupuk tanaman. Ia menyampaikan melalui sosialisasi terkait panduan pembuatan silase dan kompos organik dengan memanfaatkan limbah hijauan. Warga mendapatkan edukasi untuk melakukan pengolahan limbah menjadi pakan dan pupuk yang ramah lingkungan untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara alami dan berkelanjutan.
Di sisi lain Yashinta, mahasiswa biologi fokus pada upaya perlindungan tanaman dari hama. Ia membuat pestisida nabati dari bahan-bahan alami seperti daun mimba, batang sereh, tembakau, dan bawang putih yang efektif dalam mengusir hama tanpa membahayakan ekosistem. Selain itu, Yashinta juga memperkenalkan panduan cara membuat media tanam jamur tiram yang mudah dilakukan. Program ini tidak hanya berhubungan dengan pertanian, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat Desa Mluweh.
Kegiatan pemeliharaan tanaman kemudian dilanjutkan oleh Khiar, mahasiswa informasi dan humas yang membuat panduan praktis untuk merawat tanaman khususnya kopi dan jamur. Panduan ini berisi langkah-langkah sederhana yang bisa langsung diterapkan oleh warga, seperti cara menyiram, memberi pupuk, mencegah hama, dan menjaga tanaman tetap sehat agar dapat tumbuh kembang.
Tidak hanya sekedar menanam dan merawatnya Laurentia, mahasiswa statistika menekankan pentingnya pengawasan setelah proses penanaman dilakukan. Bagi ia, menanam bukan berarti tugas selesai, tetapi justru menjadi awal dari rangkaian proses yang harus terus dipantau. Dalam keterlibatannya pada pengawasan tanaman kopi di demplot, ia aktif mengumpulkan data untuk melihat apakah tanaman benar-benar berkembang, bukan sekadar hidup. Melalui pendekatan berbasis data ini, Laurentia berharap pengembangan tanaman dapat memiliki proses yang terukur, sehingga kelebihan dan kekurangan dari setiap tanaman yang ditanam dapat dievaluasi dengan lebih baik dan berkelanjutan.
Dari sisi teknologi Dina, mahasiswa administrasi publik memperkenalkan sistem monitoring evaluasi tanaman berbasis QR Code. Setiap tanaman kopi diberi label QR Code yang bisa dipindai menggunakan ponsel yang di dalamnya berisi data seperti jenis tanaman, tanggal tanam, hingga riwayat perawatannya. Ia memperkenalkan sistem ini dengan tujuan agar proses pemantauan jadi lebih terstruktur, mudah diakses, dan tetap berkelanjutan meskipun program KKN selesai.
Tidak hanya fokus dalam pemeliharaan tanaman, masyarakat Desa Mluweh juga mendapatkan pengetahuan tambahan terkait kesehatan. Aulia, mahasiswa kesehatan masyarakat memberikan edukasi terkait manfaat kopi dan jamur bagi kesehatan dengan menggunakan teknik penyuluhan secara mandiri lewat infografis. Langkah ini juga cukup penting agar masyarakat tidak hanya memandang tanaman dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi gizi dan kesehatan.
Dari sisi ekonominya Viandra, mahasiswa akuntansi perpajakan melakukan sosialisasi pencatatan keuangan hasil panen kepada masyarakat Desa Mluweh dengan mengajarkan warga cara mengatur pemasukan dan pengeluaran agar terstruktur. Ia juga membuat template pencatatan keuangan sederhana untuk dipergunakan masyarakat Desa Mluweh, agar nantinya bisa membuat perencanaan hasil panen yang lebih matang.
Sementara itu Marui, mahasiswa hukum memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai SOP Pendaftaran Legalitas Paten hasil produksi budidaya tanaman, dimana hasil produksi budidaya tanaman tak hanya memiliki nilai ekonomis, tetapi juga nilai kekayaan intelektual yang patut dilindungi. Ia melakukan sosialisasi, pelatihan, serta pendampingan teknis, kepada masyarakat dalam memahami proses legalitas usaha dan pembuatan izin seperti NIB serta tips pemasaran agar produk lokal dapat bersaing di pasar yang lebih luas.
Sebagai penutup Naila, mahasiswa akuntansi melakukan sosialisasi gerakan gemar menabung dari hasil usaha sektor pertanian, yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan demi kebutuhan jangka panjang atau modal usaha berikutnya.
Semua program yang dijalankan memiliki kesinambungan satu sama lain dan saling berkaitan. Hasilnya bukan cuma lahan yang terurus dan tanaman yang sehat, tapi juga terdapat peluang usaha baru, pengelolaan keuangan yang lebih rapi, dan kesadaran warga soal pentingnya kesehatan. Rangkaian program ini juga mendapatkan apresiasi dari masyarakat sekitar, warga mendapatkan pengetahuan mengenai cara merawat tanaman yang benar agar dapat tumbuh dengan baik. Selain itu, mereka juga mendapatkan pengetahuan dalam segi pengendalian hama, pembuatan kompos dan silase dari limbah hijauan, kesehatan, ekonomi, teknologi hingga hukum.
“Kami berharap kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN dari Universitas Diponegoro ini tidak berhenti disini. Diharapkan nantinya masyarakat dapat mencontohnya untuk pertanian mereka agar mendapatkan hasil produksi yang optimal dan diharapkan program program yang dijalankan bisa berkelanjutan untuk masyarakat” ujar Bapak Sujarman, selaku Kepala Desa Mluweh.
Di penghujung kata, program yang telah dilaksanakan diharapkan mampu memberikan dampak positif yang berkelanjutan, bahkan setelah kegiatan KKN usai. Manfaat ini nantinya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Desa Mluweh, tetapi juga oleh pengelola KHDTK UNDIP. Harapan ini menjadi tonggak awal terbangunnya kepercayaan antara pihak pengelola dan masyarakat sekitar, guna memastikan keberlanjutan program yang telah dirintis tetap berjalan secara sinergis.

Penulis: Mahasiswa KKN-T 32 Kelompok 2 Desa Mluweh











