JATENGKU.COM, SEMARANG — Perkembangan teknologi yang meningkat secara pesat melahirkan ancaman keamanan digital baru, salah satunya seperti penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) dan praktik manipulatif seperti deepfake. Ancaman ini tidak hanya mengganggu keamanan data pribadi, tetapi juga berpotensi memicu aksi penipuan dan kejahatan siber yang mengincar masyarakat luas.
Menyadari kondisi tersebut, Syifa Khairunnisa, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional dan anggota Kelompok 3 Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Tim 112 Universitas Diponegoro, mengadakan program sosial kemasyarakatan bertajuk “Cermat di Dunia Maya: Waspadai Deepfake dan Bahaya AI” sebagai upaya mengedukasi warga RW 3 Ngemplak Simongan tentang pentingnya menjaga kewaspadaan di ranah digital.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 31 Juli 2025, di Balai RW 3 dan dihadiri 32 peserta yang merupakan perwakilan RT 1 hingga RT 9. Dalam program ini, peserta diajak memahami konsep dasar oversharing, mengenal cara kerja kecerdasan buatan (AI) dan teknologi deepfake, serta mempelajari bagaimana keduanya dapat dimanfaatkan untuk tindakan negatif seperti penipuan daring atau pencurian identitas. Pembicara mengungkapkan bahwa keresahan warga terhadap kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan di media sosial menjadi alasan utama terselenggaranya kegiatan ini.

Selain tentang konsep dasar dan hubungannya dengan resiko ketidakamanan daring, pembicara juga menyampaikan cara untuk mengetahui konten buatan AI dengan memperlihatkan ciri-cirinya, serta tips untuk terhindar dari resiko menjadi korban pencurian data oleh AI. Selama kegiatan berlangsung, para peserta tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi juga aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman terkait informasi menyesatkan dan konten mencurigakan yang pernah mereka temui di internet. Hasil dari pre-test dan post-test yang diberikan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta, yang mengindikasikan bahwa tujuan utama dari program ini yaitu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan warga mengenai keamanan siber berhasil tercapai.
Program ini juga merupakan bagian dari pelaksanaan Proker sosial kemasyarakatan bidang sosial humaniora yang lebih luas dalam rangka mendukung pencapaian SDGs, khususnya poin ke-16 tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh, serta poin ke-4 mengenai pendidikan berkualitas. Dengan terlaksananya kegiatan ini, pembicara berharap masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga privasi dan berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi di dunia maya. Menurutnya, literasi digital adalah bentuk perlindungan diri yang relevan dan mendesak di era yang serba terhubung ini. “-yang salah bukan AI tetapi orang yang memakainya. Oleh karena itu kita harus lebih bijak dan berhati-hati dalam bersosial media.” ujarnya mengakhiri sesi malam itu.











