JATENGKU.COM, SUKOHARJO — Dalam upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) gelar kegiatan sosialisasi pemilahan sampah di Desa Plumbon, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Plumbon ini menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa Undip dalam mendukung program lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Program sosialisasi ini diinisiasi oleh Maria Carolina Lili Wijayanti, mahasiswa, Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Diponegoro, yang tengah menjalankan program KKN. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Lili mengajak masyarakat untuk mengenali lebih dalam mengenai pentingnya pemilahan sampah sebagai langkah awal menuju pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.
“Kegiatan ini berangkat dari keprihatinan saya melihat masih banyaknya sampah tercampur di lingkungan sekitar. Padahal, jika dipilah sejak dari rumah, banyak jenis sampah yang bisa didaur ulang atau dimanfaatkan kembali. Saya ingin menyampaikan bahwa menjaga lingkungan tidak harus selalu melalui langkah besar, cukup dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan konsisten,” ujar Lili.
Dalam pemaparannya, Lili menjelaskan secara sistematis tentang tiga jenis utama sampah, yaitu:
- Sampah organik, seperti sisa makanan dan daun kering, yang dapat diolah menjadi kompos.
- Sampah anorganik, seperti plastik, kertas, dan kaleng, yang bisa didaur ulang.
- Sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), seperti baterai bekas, lampu neon, dan obat kadaluarsa, yang membutuhkan perlakuan khusus agar tidak mencemari lingkungan.
Penyampaian materi dilakukan dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh warga, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Contoh-contoh yang digunakan dalam sosialisasi juga diambil dari situasi nyata yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa.
Hal ini membuat warga merasa lebih dekat dan memahami pentingnya pemilahan sampah secara langsung dalam konteks lingkungan sekitar mereka. Antusiasme peserta pun terlihat dari partisipasi aktif selama kegiatan berlangsung.
Sebagai bentuk dukungan edukasi berkelanjutan, Lili juga membagikan poster edukatif tentang pemilahan sampah kepada seluruh warga, baik dari kalangan masyarakat umum maupun perangkat desa. Poster yang dirancang ini berisi informasi tentang klasifikasi sampah dan cara sederhana memilahnya.
Respon terhadap poster ini pun sangat positif. Salah satu warga, *Ibu Sri Wahyuni, menyampaikan kesannya. “Kadang kalau cuma mendengar sekali itu lupa, tapi dengan adanya poster ini kami jadi lebih mudah mengingat. Bisa kami tempel di rumah, jadi anak-anak juga bisa lihat dan belajar,” katanya sambil menunjukkan poster yang ia terima.
Selain memberikan materi dan poster, Lili juga mengajak masyarakat untuk mulai mengimplementasikan kebiasaan memilah sampah secara mandiri di rumah masing-masing.
Ia menekankan bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama-sama. Sosialisasi ini juga menjadi wadah dialog dua arah, di mana masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga bisa menyampaikan kendala serta berbagi pengalaman tentang pengelolaan sampah di lingkungannya.
Kepala Desa Plumbon, dalam sambutannya, memberikan apresiasi dan dukungan terhadap kegiatan ini. “Kami sangat terbantu dengan adanya sosialisasi ini. Isu sampah adalah persoalan yang nyata di lingkungan desa, dan kegiatan ini menjadi langkah awal yang sangat baik. Harapannya, warga bisa semakin sadar pentingnya memilah sampah dan membawa kebiasaan ini dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Menutup kegiatan, Lili menyampaikan harapannya agar edukasi yang telah diberikan dapat menjadi langkah awal menuju perubahan pola pikir dan kebiasaan warga dalam mengelola sampah. Maria berharap agar sosialisasi ini tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, tetapi dapat menjadi pemicu terbentuknya budaya baru dalam pengelolaan sampah di Desa Plumbon.
Penulis: Maria Carolina Lili Wijayanti, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, FISIP Universitas Diponegoro











