JATENGKU.COM, Surabaya — Di balik ruang IGD yang terang, tempat suara tangis, dering monitor, dan bau disinfektan bercampur menjadi satu, seorang dokter muda rela menahan kantuk yang sudah ia tahan sejak shift sebelumnya. Ia baru saja menolong pasien henti jantung yang datang tiba-tiba, lalu berpindah untuk menenangkan keluarga pasien yang panik, sambil menjelaskan kondisi medis dengan bahasa yang sederhana.
Meskipun tubuhnya letih dan pikirannya mulai kabur, ia harus tetap profesional: menunjukkan empati, meredam emosinya, dan menjalankan etika profesi tanpa kompromi. Ketika ia menunduk sebentar untuk menarik napas panjang, ia sadar bahwa menjadi dokter tidak hanya mengobati pasien, tetapi juga menanggung berbagai tuntutan yang sering kali terasa tidak masuk akal.
Fenomena burnout di kalangan dokter bukan lagi cerita individu, melainkan sudah menjadi pertanda bahwa ada yang tidak beres dengan sistem kesehatan di Indonesia.
Burnout di Kalangan Dokter Bukan Sekadar Rasa “Lelah”, melainkan Krisis Kesehatan Nasional
Profesi dokter memang identik dengan pengabdian kepada masyarakat. Namun, dalam realitas pelayanan kesehatan di Indonesia, pengabdian tersebut sering kali beralih menjadi pengorbanan yang tidak manusiawi. Jam kerja yang melampaui batas wajar, jumlah pasien yang meledak, dan fasilitas kesehatan yang tidak selalu memadai, sudah menjadi rutinitas yang harus mereka hadapi.
Tidak sedikit dokter yang bekerja di bawah tekanan berlapis, mulai dari tuntutan administratif, ekspektasi keluarga pasien, hingga budaya kerja yang menuntut mereka untuk terus tampil sempurna, seakan-akan rasa lelah atau rentan adalah sesuatu yang haram untuk ditunjukkan. Padahal, dokter juga layaknya manusia biasa yang memiliki batasan yang tidak boleh diabaikan.
Burnout yang dialami oleh dokter bisa berupa kelelahan emosional, mental, dan fisik yang berpotensi membuat mereka kehilangan fokus, sabar, bahkan empati yang seharusnya mereka jaga saat berhadapan langsung dengan pasien. Ketika burnout muncul, kemampuan dokter dalam mengambil keputusan klinik dapat menurun, komunikasi dengan pasien menjadi kurang optimal, dan risiko kesalahan medis dapat meningkat.
Dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh dokter itu sendiri, tetapi juga pasien yang mereka rawat karena keselamatannya terancam. Ironisnya, kondisi serius seperti ini masih sering dianggap sebagai “risiko pekerjaan” sehingga bukan menjadi masalah yang perlu dibenahi.
Pendidikan 6–11 Tahun, Biaya Ratusan Juta, tetapi Gaji Dokter Umum Masih Jauh dari Kata Layak
Untuk menjadi dokter, seseorang harus menempuh pendidikan yang sangat panjang. Perjalanan dimulai dari kuliah preklinik untuk mendapatkan gelar S. Ked., lalu dilanjutkan dengan koas, internship, dan spesialis apabila ingin melanjutkan. Total waktunya bisa mencapai 6–11 tahun, bukan proses yang singkat dan tentu butuh biaya yang tidak kecil.
Namun, setelah menempuh perjalanan panjang yang pastinya sangat tidak mudah, banyak dokter umum yang justru menerima gaji yang jauh dari kata layak. Upah tersebut tidak sebanding dengan usaha, pengorbanan, dan risiko pekerjaan yang mereka tanggung. Tidak sedikit pula yang dibayar per tindakan, bukan per jam, sehingga pendapatannya bergantung sepenuhnya pada jumlah pasien yang berobat.
Di sisi lain, mereka bekerja dengan risiko hukum yang tinggi, tuntutan masyarakat yang besar, dan jam kerja yang kerap tidak menentu. Di sinilah ironi itu muncul. Harga untuk menjadi seorang dokter begitu mahal, tetapi beban tersebut justru harus ditanggung oleh dokter itu sendiri.
Tekanan Sosial: Dokter Dituntut Sempurna, padahal Sistemnya Rapuh
Di mata publik, dokter sering dianggap “harus selalu benar”.
Ketika pasien tidak puas, dokter yang disalahkan.
Ketika rumah sakit penuh, dokter yang dimarahi.
Ketika kondisi pasien memburuk, dokter yang dituding lambat.
Tidak jarang pula muncul kasus kekerasan verbal maupun fisik terhadap dokter akibat luapan emosi dari keluarga pasien yang tidak tepat sasaran. Padahal, mereka sedang berupaya untuk memberikan pelayanan terbaik di tengah berbagai kondisi yang sering kali tidak dapat mereka kendalikan.
Yang lebih ironis, dalam situasi sesulit apa pun, dokter tetap berkewajiban memegang teguh standar etika profesi. Mereka harus menunjukkan empati kepada pasien dan keluarganya, menjelaskan kondisi medis dengan jujur, jelas, dan sopan, menghargai martabat pasien, serta menjaga kerahasiaan medis. Standar etis inilah yang selalu melekat pada profesi dokter, terlepas dari seberat apa pun kondisi di lapangan.
Namun, ketika burnout mulai muncul, menjalankan tanggung jawab etis ini terasa jauh lebih berat. Bukan karena enggan menjalankannya, melainkan karena mereka harus tetap menjaga standar profesionalitas di tengah sistem kesehatan yang justru membuat mereka kewalahan.
Ketimpangan beban kerja, dukungan yang minim, serta tuntutan pekerjaan yang tidak manusiawi, membuat para dokter berjuang dua kali: menjaga keselamatan pasien sekaligus menjaga kesehatan dirinya sendiri. Jika hal ini terjadi secara massal, Indonesia akan menghadapi krisis tenaga kesehatan yang jauh lebih besar daripada yang kita kira. Di titik inilah kebutuhan akan perbaikan sistem kesejatan di Indonesia menjadi sangat jelas, yaitu agar dokter dapat memberikan pelayanan terbaik tanpa harus mengorbankan kesejahteraan fisik dan mental mereka.
Di Sisi Lain, Dokter Abal-Abal di Media Sosial Membuat Beban Dokter Asli Makin Berat
Pada era digital yang serba praktis, sebuah video 30 detik bisa lebih dipercaya daripada ilmu kedokteran yang dipelajari selama bertahun-tahun. Fenomena dokter abal-abal dan health influencer tanpa kompetensi kini makin marak di media sosial. Mereka berbicara layaknya ahli, mempromosikan obat yang tidak jelas kandungannya, bahkan membuat diagnosa asal-asalan demi konten.
Masalahnya, setiap kali informasi keliru itu dipercaya, yang akhirnya harus membereskan semuanya adalah dokter sungguhan. Mereka harus menjelaskan ulang dari awal, meluruskan hoaks yang sudah terlanjur menyebar, dan menenangkan pasien yang datang dengan kecemasan karena informasi keliru yang beredar di media sosial. Beban psikologis ini menumpuk dari waktu ke waktu. Sebuah paradoks pun muncul: dokter asli bekerja dalam diam, sedangkan dokter palsu justru viral dalam hitungan detik.
Kita sering bicara soal pasien yang harus diselamatkan.
Namun kita jarang bertanya: “Siapa yang menyelamatkan dokternya?”
Apa yang Harus Dilakukan? Solusi Tidak Bisa Ditunda Lagi
Jika kita sungguh ingin memperbaiki kualitas layanan kesehatan di Indonesia, menghargai dokter bukan pilihan, melainkan keharusan yang tidak bisa dinegosiasi. Perubahan harus dimulai dari sistemnya, bukan menuntut individu untuk terus “kuat.”
Beberapa langkah penting yang harus menjadi prioritas:
- Menata ulang sistem kerja. Jam kerja perlu diubah ke batas yang manusiawi, lengkap dengan waktu istirahat yang cukup. Dokter bukan mesin yang bisa terus berjalan tanpa henti.
- Meningkatkan kesejahteraan. Upah, insentif, dan fasilitas harus sebanding dengan tanggung jawab serta risiko yang mereka hadapi setiap hari.
- Memperkuat perlindungan hukum. Dokter berhak merasa aman dari ancaman, intimidasi, dan kekerasan saat menjalankan tugas.
- Mencerdaskan publik. Edukasi mengenai etika kedokteran, privasi, proses klinis, dan cara memilah informasi medis sangat penting bagi masyarakat.
- Mengawasi konten kesehatan di media sosial. Influencer dan content creator yang membahas soal medis sebaiknya memastikan informasi yang mereka bagikan sudah dicek kebenarannya agar masyarakat tidak lagi tersesat oleh konten yang menyesatkan.
- Menyediakan dukungan psikologis bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan. Mereka perlu punya akses mudah ke layanan kesehatan mental yang ramah, tidak menghakimi, dan benar-benar membantu, agar mereka dapat menjaga kesejahteraan emosional di tengah tuntutan kerja yang berat.
Pada akhirnya, mustahil mengharapkan dokter bekerja optimal jika mereka sendiri sedang bersusah payah menjaga kesehatan mentalnya. Memperbaiki sistem kesehatan bukan hanya demi dokter dan pasien, tetapi demi kita semua.
Jangan Tunggu Dokter Tumbang untuk Mulai Peduli
Di balik setiap senyum yang diberikan dokter kepada pasiennya, sering kali tersembunyi rasa lelah yang tidak pernah tersampaikan. Namun, etika profesi membuat mereka tetap hadir dengan empati, tetap tenang di tengah kekacauan, dan tetap menjaga martabat pasien, meskipun batin mereka sendiri tergerus tekanan.
Jika kita menginginkan layanan kesehatan yang manusiawi, dokternya harus dijaga terlebih dahulu. Sebab ketika dokter mulai kehabisan tenaga, dampaknya tidak hanya berhenti pada mereka. Pasien kehilangan kualitas perawatan, rumah sakit kehilangan pijakan, dan pada akhirnya seluruh sistem kesehatan kehilangan penyangganya.
Dokter yang runtuh bukan sekadar tragedi personal—itu adalah retakan pertama dari runtuhnya kesehatan bangsa.

Penulis: Mikaelia Evangelina Clarissa Sonja, Mahasiswi Universitas Airlangga Program Studi Kedokteran











