JATENGKU.COM, Surabaya — Pulau Madura, yang terletak di timur laut Pulau Jawa dan di hubungkan dengan Jembatan Suramadu yang ikonik. Madura adalah sebuah entitas budaya dan historis yang kaya, penduduknya yang terkenal memegang erat adat dan budaya nya yang menjadikan itu sebuah kelebihan orang-orang di Pulau Madura.

Hal itu membuat beberapa orang madura yang tinggal jauh dari kota, hanya sedikit yang bisa menggunakan Bahasa Indonesia, sehingga itu menjadi salah satu tantangan yang di hadapi ketika ada dokter yang praktik di sana tetapi bukan asli dari Pulau Madura, mengapa menjadi tantangan, karena perbedaan cara berkomunikasi dan pemahan orang-orang di Pulau Madura yang berbeda. Berikut masalah yang terjadi di salah satu daerah, menurut dokter setempat.

Komunikasi Dokter dengan Pasien

Pada tanggal 13 November 2025  saya dan teman-teman melakukan wawancara kepada dr.Zakky Sukmajay, Sp.OG yang praktik di rumah sakit Sukma Wijaya, yang terletak di kabupaten sampang. Menurut beliau awal-awal memang susah berkomunikasi dengan pasien tetapi sebagai seorang tenaga medis kita juga harus bisa beradaptasi cepat dengn warga sekitar, adapun beberapa contoh kosakata yang digunakan.

  • Sake’ ceta’ = sakit kepala
  • Nyo-ngronyo = sakit linu-linu
  • Sake’ tabu’ = sakit perut
  • Kepilengan = pusing
  • Kepilengan alinglingling = Vertigo

Itulah contoh bahasa yang sering digunakan oleh masyarakat sekitar, yang di jelaskan oleh dr.Zakky Sukmajaya, Sp.OG ketika beliau awal mengemban tugas dokter sebelum akhirnya mejadi dokter spesialis kandungan. Beliau tidak butuh waktu lama untuk memahami bahasa Madura, karena setiap hari beliau bertemu pasien dan juga di ajarkan oleh rekan kerja nya yang asli dari Madura.

Perbedaan Pengetahuan Medis

Sesuai penjelasan dari dr.Zakky Sukmajaya, Sp.OG orang di daerah san ajika meminta suntik vitamin, tidak mau hanya di tubuh bagian kiri atau kanan saja, karena menurut mereka jika hanya di suntik kiri saja atau kanan saja sembuh nya hanya setengah badan. Sehingga beliau mengakalai dengan dosis obat nya di bagi dua, awal awal dokter zakky menuruti kemauan sekitar tetapi sambil memberikan edukasi bahwa meskipun di suntik satu kali saja sudah cukup. Lama-lama masyarakat disana pun ter edukasi sehingga tidak meminta suntik di dua sisi tubuh.

Kesimpulan

Sebagai seorang tenaga medis harus siap di tempatkan dimana saja dan harus siap dengan kebiasaan baru di lingkungan yang kita tinggal, supaya kita bisa berbaur dengan masyarakat dan masyarakat tidak sungkan jika ingin bertanya-tanya kepada kita. Selain itu juga kita juga tidak bisa langsung edukasi masyarakat tersebut, menurut dr.Zakky Sukmajaya, Sp.OG kita harus pelan-pelan dalam mengedukasi masyarakat, memberikan pemahaman yang singkat, dan ketika menjelaskan kita harus sabar serta menggunakan nada yang rendah

Penulis: Nabil Akbar Zaky, Mahasiswa Universitas Airlangga
Narasumber: dr. Zakky Sukmajaya, Sp.OG

Editor: Handayat