JATENGKU.COM, Surabaya — Pandemi COVID-19 meninggalkan banyak catatan penting bagi dunia kesehatan, salah satunya soal komunikasi. Di tengah lonjakan kasus, kebijakan pembatasan sosial, dan derasnya arus informasi di media sosial, satu hal menjadi semakin jelas: komunikasi yang tidak etis dan tidak transparan bisa memperparah krisis kesehatan.

Bagi mahasiswa, khususnya yang bergerak di bidang kesehatan, sosial, dan kebijakan publik—isu ini bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah pelajaran penting tentang bagaimana ilmu, etika, dan tanggung jawab sosial saling beririsan dalam situasi Kejadian Luar Biasa (KLB).

KLB dan Tantangan Komunikasi Publik

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah kondisi meningkatnya angka kesakitan atau kematian secara signifikan dalam waktu dan wilayah tertentu. Dalam situasi seperti ini, pemerintah dan tenaga kesehatan dituntut bergerak cepat. Namun kecepatan saja tidak cukup—cara menyampaikan informasi kepada publik juga menentukan keberhasilan penanganan.

Masalah muncul ketika informasi disampaikan secara tidak konsisten, terlambat, atau terlalu teknis. Masyarakat menjadi bingung, muncul spekulasi, dan kepercayaan mulai goyah. Pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa kegagalan komunikasi dapat memicu ketidakpatuhan, mulai dari abainya protokol kesehatan hingga maraknya kegiatan massal yang menciptakan klaster penularan baru.

Etika Komunikasi: Bukan Sekadar Formalitas

Etika komunikasi dalam situasi KLB menuntut kejujuran, empati, dan tanggung jawab. Informasi harus berbasis data yang valid, namun disampaikan dengan bahasa yang dapat dipahami masyarakat luas. Terlalu menutupi risiko sama berbahayanya dengan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Di sisi lain, etika juga berarti menghormati privasi. Identitas pasien dan kelompok terdampak tidak boleh diekspos secara sembarangan karena berpotensi menimbulkan stigma sosial. Bagi mahasiswa, hal ini menjadi pengingat bahwa ilmu kesehatan selalu berhubungan dengan nilai kemanusiaan.

Transparansi di Era Media Sosial: Antara Informasi dan Hoaks

Mahasiswa hidup di era digital, di mana satu unggahan bisa menyebar dalam hitungan menit. Sayangnya, selama pandemi, informasi resmi sering kalah cepat dibanding hoaks. Inilah yang disebut sebagai infodemic—banjir informasi yang membuat masyarakat sulit membedakan fakta dan opini.

Transparansi informasi menjadi kunci untuk melawan hoaks. Pemerintah dan institusi kesehatan perlu rutin menyampaikan data yang akurat dan mudah diakses. Namun transparansi juga harus disertai edukasi dan literasi digital. Tanpa kemampuan berpikir kritis, keterbukaan informasi justru dapat disalahartikan.

Di sinilah peran mahasiswa menjadi penting: sebagai agen literasi, bukan sekadar konsumen informasi.

Ketika Komunikasi Gagal, Hukum Bicara

Pengalaman pandemi menunjukkan bahwa komunikasi yang lemah berujung pada rendahnya kepatuhan masyarakat. Akibatnya, negara memperketat pendekatan hukum. Undang-Undang Kesehatan Tahun 2023 menaikkan sanksi denda pelanggaran protokol kesehatan hingga Rp500 juta.

Langkah ini menunjukkan keseriusan negara dalam menghadapi KLB di masa depan. Namun, pendekatan hukum tanpa komunikasi yang baik berisiko menimbulkan resistensi. Aturan yang keras harus dibarengi penjelasan yang transparan agar dapat dipahami dan diterima publik.

Media Kampus dan Peran Mahasiswa

Media kampus memiliki posisi strategis dalam menyebarkan informasi kesehatan yang kredibel. Di tengah maraknya konten sensasional, pers mahasiswa dapat menjadi penyeimbang dengan menghadirkan tulisan yang kritis, edukatif, dan beretika.

Mahasiswa juga memiliki peran sebagai penghubung antara kebijakan dan masyarakat. Dengan kemampuan akademik dan akses terhadap literatur ilmiah, mahasiswa dapat membantu menerjemahkan isu kesehatan menjadi informasi yang relevan dan mudah dipahami.

Belajar Berkomunikasi, Belajar Bertanggung Jawab

KLB dan pandemi bukan hanya soal virus, tetapi juga soal kepercayaan. Etika komunikasi dan transparansi informasi terbukti menjadi fondasi penting dalam pengendalian krisis kesehatan. Ketika komunikasi dilakukan dengan jujur, empatik, dan terbuka, masyarakat lebih siap bekerja sama.

Bagi generasi kampus, pelajaran ini relevan untuk masa depan. Di mana pun peran kita nanti—sebagai tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, peneliti, atau jurnalis—cara kita berkomunikasi bisa menentukan dampak dari setiap keputusan yang diambil.

Karena dalam situasi krisis, komunikasi bukan hanya menyampaikan informasi. Ia adalah bentuk tanggung jawab sosial.

Penulis: Adistiar Rahma Salsabila, Ahsan Danendra Wibisono, Fisti Nisa Nur Azizah, Aghniya Salwa Tazkiyya, Caerissa Salaffiyah Hayati, Khansa Kirana, Fetryanisa Bintang Kuku, Nadine Griselda, Nadine Mymeennafila

Editor: Handayat