JATENGKU.COM, Magelang — Sebagai wujud nyata pengabdian kepada masyarakat, kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Tidar (Untidar) angkatan 2026 melaksanakan program strategis pengelolaan limbah di RT 001/RW 018, Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang.

Melalui kerja sama sinergis dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang, mahasiswa bersama warga setempat menggelar kerja bakti massal pada hari Minggu (25/1/2026) untuk membangun instalasi pengolahan sampah organik yang diberi nama “Rorak Modern”. Kegiatan ini merupakan langkah solutif untuk menciptakan kemandirian pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga yang lebih efektif dan higienis.

Pembangunan Rorak Modern ini didasari oleh hasil evaluasi mendalam terhadap program yang sedang berjalan yang bernama “MakClinge”. Program sebelumnya, yang memfasilitasi tong sampah di tiap rumah dan komposter tong di setiap Dasawisma (Dawis), dinilai kurang optimal dalam pelaksanaannya.

Hal ini terungkap dalam diskusi evaluasi antara Kepala Bidang Pengelolaan dan Penanganan Persampahan DLH Kota Magelang, Widodo, S.P., M.Si., dengan Ketua RW 18, Bapak Rusadam. Dalam kesempatan tersebut, Widodo menyoroti bahwa pemilahan sampah dari sumber rumah tangga tampaknya belum berjalan efektif. Hal ini diakui oleh Rusadam yang mengungkapkan bahwa tantangan utama terletak pada kesulitan mengubah kebiasaan lama warga serta kendala teknis pada alat komposter sebelumnya.

Menurut Rusadam, warga kerap mengeluhkan penggunaan komposter tong lama yang menimbulkan bau tidak sedap, memunculkan belatung, serta mengeluarkan cairan lindi yang mengotori lingkungan. Selain itu, warga merasa terbebani karena harus mencacah sampah organik sebelum dimasukkan ke dalam tong.

Menanggapi permasalahan tersebut, Widodo memberikan rekomendasi teknis untuk beralih ke metode yang lebih sederhana namun berdaya guna. “Mungkin dibuatkan konsep Teba sederhana saja dari ember cat 25 kg yang ditumpuk. Itu lebih simpel dan bisa menanggulangi keresahan warga terhadap komposter tong,” saran Widodo. Gagasan tersebut disambut antusias oleh Rusadam yang kemudian menggandeng mahasiswa KKN Untidar untuk merealisasikannya melalui kegiatan kerja bakti.

Secara teknis, Rorak Modern yang dibangun merupakan modifikasi cerdas dari konsep TEBA Modern. Setiap unit instalasi terdiri dari dua buah ember bekas cat berkapasitas 25 kg yang disusun secara vertikal atau ditumpuk. Bagian alas ember paling atas dilubangi untuk jalur masuk sampah, sementara dinding-dinding ember diberi lubang perforasi berdiameter kurang lebih 3 cm dengan pola acak.

Lubang-lubang samping ini memiliki fungsi vital sebagai jalur pelepasan cairan lindi hasil pembusukan sampah agar dapat langsung meresap ke dalam tanah, sehingga tidak ada cairan yang menggenang atau berserakan di permukaan. Guna menjamin keamanan dan estetika, bagian atas instalasi ditutup menggunakan beton tipis berdimensi 40 cm x 40 cm dengan ketebalan 6 cm. Sebanyak 8 titik lubang berhasil dibangun secara gotong royong, dengan alokasi dua lubang untuk melayani setiap Dasawisma dari total empat Dawis yang ada di RT 01.

Instalasi pengolahan sampah organik “Rorak Modern” yang sudah jadi dan siap digunakan.

Salah satu aspek krusial dari Rorak Modern ini adalah strategi penempatannya yang disarankan berada di dekat pohon atau tanaman keras. Posisi ini memungkinkan cairan lindi yang keluar dari lubang resapan langsung dimanfaatkan oleh akar pohon di sekitarnya sebagai pupuk organik cair, menciptakan siklus nutrisi yang tertutup dan menyuburkan tanah. Sistem operasional Rorak ini juga dirancang dengan mekanisme rotasi yang cerdas.

Satu lubang diperkirakan akan penuh dalam kurun waktu 3 bulan. Ketika lubang pertama penuh, warga dapat beralih mengisi lubang kedua. Pada saat lubang kedua terisi penuh, sampah di lubang pertama dipastikan telah terdekomposisi sempurna menjadi pupuk kompos yang siap dipanen dan dimanfaatkan kembali oleh warga.

Kehadiran Rorak Modern ini menawarkan solusi komprehensif atas kelemahan metode sebelumnya. Dibandingkan komposter tong konvensional, Rorak Modern terbukti tidak menimbulkan bau, mencegah munculnya lalat dan belatung, serta meniadakan rembesan cairan lindi yang kotor.

Kepraktisan juga menjadi nilai tambah utama, di mana warga tidak perlu lagi repot mencacah sampah organik. Dengan sistem yang lebih bersih, mudah, dan menghasilkan manfaat ganda berupa kompos dan kesuburan tanaman, program ini diharapkan dapat membangun kesadaran kolektif warga Rejowinangun Utara dalam mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan.

Editor: Handayat

Tag