JATENGKU.COM, SEMARANG – Book Club Semarang sukses menyelenggarakan workshop budaya inovatif bertajuk “Tabi: Japan’s Culture Explorer” di Sekolah Vokasi Pleburan, Universitas Diponegoro, pada Sabtu (17/1/2026). Inisiatif ini berhasil terwujud berkat dukungan dana hibah Small Grant Award dari The Japan Foundation Jakarta.
Acara ini mempertemukan para pembaca lokal dan generasi muda untuk berkolaborasi menciptakan papan permainan (board game) edukatif. Keseruan workshop semakin terasa dengan kehadiran dua Nihon-go Partners dari Japan Foundation, Koshima-san dan Iwamoto-san, serta Shinohara Misaki sebagai pembicara utama pada sesi talk show yang memberikan bimbingan budaya otentik selama proses kreatif berlangsung.
Inovasi Melampaui Diskusi Buku
Meski selama ini dikenal sebagai wadah bagi para pembaca di Semarang, khususnya untuk para pencinta sastra Jepang (J-Lit), melalui proyek ini Book Club Semarang melangkah lebih jauh dari sekadar diskusi buku konvensional. Para peserta ditantang untuk memainkan board game dan memberikan masukan yang menggabungkan aspek kreativitas, permainan, dan edukasi.
“Kami melihat antusiasme yang kuat terhadap budaya Jepang di komunitas kami, namun kami ingin menciptakan sesuatu yang lebih berkelanjutan dan interaktif,” ujar Silvia Setyoningrum, mantan ketua Book Club Semarang sekaligus project officer pada acara ini. “Melalui dukungan Small Grant Program, kami berhasil mengembangkan platform interaktif untuk belajar sambil bermain.”
TABI, yang diambil dari kanji Jepang (旅) berarti ‘perjalanan’, merupakan board game edukasi yang dirancang untuk memperkenalkan literasi budaya di 47 prefektur Jepang. Dengan mengintegrasikan trivia, pertanyaan benar-salah, tantangan bahasa dan kartu kejutan, serta sumber digital berbasis QR, permainan ini menjadi sarana belajar pengalaman yang menonjolkan kekayaan budaya Jepang.
Eksplorasi 47 Prefektur
Workshop ini juga menghadirkan sesi talk show spesial bersama Shinohara Misaki-sensei. Dalam sesinya, ia memaparkan wawasan mendalam mengenai keragaman tradisi Jepang yang lebih luas dari sekadar ikon populer seperti anime dan sushi. Ia mengajak peserta untuk melihat lebih dalam keunikan regional dari setiap prefektur di Negeri Sakura tersebut.
Suasana semakin meriah saat memasuki sesi Workshop Game. Para peserta berkompetisi dalam versi permainan “mode singkat”. Ruangan dipenuhi gelak tawa dan semangat kompetisi saat pemain menghadapi tantangan bahasa dan rintangan budaya untuk mencapai garis finis.

“Hari ini jujur seru banget, apalagi saya menang permainannya! Kalau harus mendeskripsikan hari ini dalam satu kata: luar biasa. Mulai dari ice breaking, talk show, sampai seluruh stafnya keren banget!” ungkap Lista, salah satu peserta.
Sebagai penutup, acara diakhiri dengan seremoni penghargaan pemenang game dan kostum terbaik, dimana peserta yang datang dengan bersemangat mengekspresikan diri, cosplay karakter favorite mereka. Selain itu, ada pula pembagian Omamori (jimat keberuntungan Jepang) bagi peserta yang memberikan umpan balik.
Tim penyelenggara menegaskan bahwa ini barulah awal bagi TABI. “Kami berharap kedepannya board game ini menjadi lebih berkelanjutan dan bisa dimainkan oleh banyak orang,” harap tim pengembang.
Agar dapat diakses publik secara luas, TABI akan tersedia untuk dimainkan secara gratis di beberapa lokasi strategis, di antaranya Koryuu Space, Japan Foundation (Jakarta), Jaja Ice Shop (Kota Lama, Semarang), Perpustakaan Bank BI Jawa Tengah serta beberapa lokasi lain.
Sebagai pencapaian besar berikutnya, versi final dari board game TABI dijadwalkan akan dipamerkan di Kedutaan Besar Jepang di Jakarta sebagai bagian dari perayaan resmi Hari Ulang Tahun Kaisar Jepang.







