Kendal – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Tim-21 Universitas Diponegoro yaitu Aulia Salsabila dari Program Studi Antropologi Sosial dan Syahrul Rouufurrosyid dari Program Studi Sejarah, melaksanakan kegiatan edukasi kepada masyarakat petani kopi di Desa Gedong, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal pada Jumat, 18 Juli 2025. Salah satu agenda yang dilakukan adalah penyebaran leaflet mengenai teknik pemetikan kopi dan pengolahan pasca panen sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan tujuan meningkatkan mutu serta daya saing kopi lokal.
Kegiatan ini merupakan rangkaian dari program Towards Rural Sustainability yang diinisiasi mahasiswa Undip, khususnya dalam bidang pengembangan ciri khas kopi Desa Gedong. Tim-21 Undip menilai bahwa kualitas kopi bukan hanya ditentukan oleh jenis tanaman atau kondisi lahan, tetapi juga oleh proses pemetikan dan pengolahan pasca panen yang dilakukan petani.
Mahasiswa membagikan leaflet berisi panduan singkat, sistematis, dan mudah dipahami oleh para petani. Isi leaflet meliputi teknik petik buah kopi yang tepat, seperti hanya memetik buah merah matang (red cherry), menghindari pemetikan buah hijau yang belum siap, serta melakukan pemetikan secara selektif untuk menjaga kualitas.
Selain itu, leaflet juga menjelaskan tahapan penting pengolahan pasca panen, mulai dari proses sortasi, pencucian, fermentasi, pengeringan, hingga penyimpanan. Semua tahapan dijabarkan mengacu pada standar SNI, sehingga kopi yang dihasilkan dapat memiliki cita rasa lebih konsisten, aman dikonsumsi, dan berpeluang masuk ke pasar yang lebih luas, baik domestik maupun internasional.
Menurut salah satu anggota Tim-21, kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung potensi lokal. “Kami berharap penyebaran leaflet ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memotivasi petani untuk menerapkan teknik yang sesuai standar. Dengan begitu, kopi Desa Gedong bisa memiliki nilai jual lebih tinggi dan mampu bersaing di pasar yang lebih kompetitif,” jelasnya.
Para petani kopi menyambut positif kegiatan ini. Banyak dari mereka yang mengakui bahwa selama ini teknik pemetikan dan pengolahan dilakukan secara tradisional tanpa standar baku. “Biasanya kami memetik semua buah sekaligus, tidak terlalu membedakan mana yang merah atau hijau. Ternyata kalau dipetik yang matang saja hasilnya bisa lebih bagus,” ungkap salah seorang petani.
Menurut Dr. Sari Listyorini, S.Sos., M.AB. selaku dosen pembimbing lapangan KKNT Tim-21 Undip, kegiatan penyebaran leaflet ini sejalan dengan tujuan KKN Tematik Undip untuk mendorong transfer ilmu ke masyarakat desa.
“Edukasi mengenai teknik pemetikan dan pengolahan kopi sesuai standar ini diharapkan dapat menjadi bekal penting bagi petani untuk meningkatkan kualitas hasil panen. Dengan begitu, kopi Desa Gedong tidak hanya dikenal secara lokal, tetapi juga berpeluang menembus pasar yang lebih luas,” jelasnya. Beliau juga menambahkan bahwa kegiatan ini bukan hanya memberi manfaat praktis bagi petani, tetapi juga menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam memahami dinamika masyarakat pedesaan.
Selain membagikan leaflet, mahasiswa juga membuka ruang diskusi bersama petani untuk membahas kendala yang dihadapi, seperti keterbatasan alat pengolahan, kesulitan menjaga konsistensi kualitas, dan minimnya akses pasar. Diskusi ini menjadi langkah awal untuk menyusun strategi pengembangan kopi Desa Gedong secara lebih berkelanjutan. Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti nyata kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat desa dalam upaya meningkatkan kapasitas produksi pertanian lokal. Dengan memadukan ilmu pengetahuan yang dimiliki mahasiswa dan kearifan lokal petani, diharapkan akan lahir inovasi baru yang mendukung pertumbuhan ekonomi pedesaan.
Program sosialisasi ini diharapkan tidak berhenti hanya pada penyebaran informasi, melainkan juga mampu mendorong praktik nyata di lapangan. Dengan penerapan teknik pemetikan dan pengolahan kopi pasca panen sesuai SNI, mutu kopi Desa Gedong dapat meningkat sehingga memberi dampak langsung terhadap kesejahteraan petani. “Ini langkah kecil, tetapi sangat penting. Kami percaya dengan kualitas yang terjaga, kopi Kendal bisa semakin dikenal dan menjadi identitas daerah yang membanggakan,” tutup salah satu mahasiswa KKNT Tim-21 Undip.











