JATENGKU.COM, BATANG — Di balik jalan-jalan kecil Dusun Rembul, Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, tersembunyi potensi ekonomi lokal yang selama ini jarang terekspos. Melihat hal tersebut, mahasiswa Universitas Diponegoro yang tergabung dalam Tim KKN-T IDBU 50 menggagas program pemetaan UMKM guna mencatat dan mengangkat potensi ekonomi warga.
Program ini dipelopori oleh Lintang Nanda Solecha, mahasiswa Statistika, yang menyadari pentingnya data terstruktur sebagai dasar dalam merancang strategi pemberdayaan yang lebih tepat sasaran. Banyak pelaku UMKM di Dusun Rembul menjalankan usahanya tanpa dokumentasi yang memadai—bahkan tanpa papan nama atau identitas usaha formal—yang menyulitkan proses pembinaan dan pengembangan usaha secara komprehensif.
Sepanjang Juli 2025, mahasiswa KKN-T IDBU 50 melakukan serangkaian kegiatan lapangan seperti observasi langsung, wawancara dengan pelaku UMKM, serta pencatatan lokasi dan jenis usaha. Pendataan dilakukan menyeluruh agar tidak ada pelaku usaha yang terlewat. Hasilnya, tersusun Peta UMKM Dusun Rembul yang memuat informasi mengenai lokasi, jenis produk atau jasa, serta bentuk aktivitas ekonomi warga.
Usaha yang berhasil terdata cukup beragam, mulai dari warung kelontong, jasa potong rambut, penjual makanan seperti mie ayam dan jajan pasar, hingga usaha jasa dekorasi dan agen keuangan digital. Seluruh usaha ini sebelumnya belum tercatat secara resmi, meskipun berperan penting dalam menopang ekonomi masyarakat setempat.
Program ini mendapat sambutan positif dari warga. Para pelaku usaha antusias membagikan informasi, bahkan beberapa warga turut membantu mengenalkan pelaku UMKM lain yang belum teridentifikasi. Keterlibatan aktif ini menjadi bukti bahwa masyarakat memiliki semangat untuk berkembang bersama dalam ekosistem ekonomi yang lebih tertata.
Dengan adanya peta visual UMKM, pemerintah desa kini memiliki gambaran yang lebih jelas untuk menyusun rencana pelatihan, pembinaan, dan pengembangan sektor usaha ke depan. Harapan warga pun besar terhadap keberlanjutan program ini, seperti pelatihan keterampilan, akses permodalan, dan pendampingan usaha secara rutin agar UMKM dapat naik kelas.
Meski sederhana, program pemetaan ini menjadi langkah awal yang penting. Mahasiswa KKN-T IDBU 50 berharap inisiatif ini bisa dilanjutkan dan dikembangkan oleh pemerintah desa, lembaga pelatihan, maupun pihak pemberdayaan lainnya. Karena dari data inilah, perubahan besar dapat mulai dirancang.











