JATENGKU.COM, SEMARANG — Sebagai bagian dari Tim KKN Tematik 131 Universitas Diponegoro, saya mengambil peran aktif dalam kegiatan pemberdayaan UMKM “Happy Juice” di wilayah Tembalang, Semarang.

Melalui pendekatan multidisiplin yang menggabungkan aspek teknologi pangan, komunikasi digital, serta kreativitas visual, saya turut menggagas dua program pendampingan yang mengarah pada sosialisasi manfaat pangan serta inovasi pengembangan menu berbasis preferensi generasi muda.

Fokus utama yang saya usulkan dalam program ini terbagi dalam dua aspek, yaitu:

1. Sosialisasi manfaat buah-buahan lokal bagi kesehatan dengan pendekatan digitalisasi

Melihat potensi luar biasa dari bahan baku yang digunakan oleh pelaku usaha seperti Happy Juice—yakni buah dan sayur segar yang mudah diperoleh di pasar lokal—saya menginisiasi ide penyuluhan ringan seputar manfaat gizi setiap buah melalui media digital sederhana seperti infografik interaktif yang dapat diakses melalui QR code yang ditempelkan pada booth penjualan.

Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran konsumen, terutama pelajar dan mahasiswa, terhadap nilai gizi jus yang mereka konsumsi. QR code ini mengarahkan ke konten informatif tentang kandungan antioksidan, vitamin, serta manfaat fungsional dari bahan-bahan seperti wortel, bayam, nanas, atau apel. Langkah edukatif ini menjadi strategi sederhana namun relevan dalam era digital 4.0, di mana informasi cepat, visual, dan ringkas jauh lebih diterima oleh masyarakat muda.

2. Pengembangan ide kreatif dalam menu sebagai strategi menarik minat konsumen

Saya juga mengamati bahwa banyak pelaku UMKM dan PKL memiliki produk yang berkualitas dari segi rasa dan harga, namun sering kali mengalami stagnasi dari segi branding atau variasi menu.

Dalam observasi langsung ke lapangan, saya mencatat bahwa Happy Juice memiliki kualitas rasa yang konsisten namun variasi nama dan tampilan menunya belum cukup “menggugah” secara visual dan psikologis.

Sebagai respons, saya berkolaborasi bersama pelaku usaha untuk menyusun ide-ide menu baru yang menggabungkan penamaan bilingual (Bahasa Indonesia dan Inggris), serta memperkenalkan tema menarik seperti “Mood Booster Series” atau “Antioksidan Favorit Mahasiswa”. Nama-nama ini dirancang untuk relevan dengan suasana hati, waktu konsumsi (pagi/siang), atau manfaat utama (detoks, segar, energi).

Selama survei dan pemantauan di sekitar lingkungan kampus, saya melihat bahwa masih banyak PKL yang memiliki keterbatasan dalam memahami pentingnya legalitas dan nilai edukatif dari produk mereka. Padahal, bahan pangan yang digunakan seperti buah-buahan, sayuran, maupun bahan lokal lainnya menyimpan potensi besar untuk dijadikan konten edukatif yang bisa meningkatkan nilai jual.

Dari hasil observasi saya, setidaknya terdapat dua permasalahan umum yang bisa dijadikan titik masuk kontribusi mahasiswa:

1. Kurangnya pemanfaatan teknologi digital oleh PKL dan UMKM sebagai alat edukasi dan branding.

Sebagai mahasiswa, saya menyadari bahwa edukasi gizi dan manfaat produk pangan tidak harus dilakukan melalui seminar formal. Dengan menciptakan media visual edukatif yang dikaitkan dengan media sosial atau QR code yang mengarah pada infografik, konten singkat, atau video edukasi, informasi bisa tersampaikan lebih luas. Ini juga bisa meningkatkan engagement dengan konsumen, menciptakan hubungan emosional dan loyalitas, serta memperkuat brand dari pelaku usaha tersebut.

2. Monoton dalam variasi menu dan minimnya inovasi penamaan

Cukup banyak pelaku usaha makanan dan minuman di sekitar kampus yang hanya menjual satu atau dua varian dengan nama generik seperti “jus mangga”, “jus alpukat”, tanpa nilai pembeda yang kuat. Padahal, dengan pendekatan sederhana—misalnya dengan mengadopsi strategi penamaan yang tematik, seasonal, atau berbasis manfaat kesehatan—produk bisa menjadi lebih menarik dan membangkitkan rasa penasaran konsumen. Dalam program ini, saya mengusulkan dan merancang beberapa nama serta deskripsi menu, yang kemudian mendapatkan respons positif dari pelaku usaha dan konsumen.

Program yang saya jalankan ini tidak hanya menjadi bentuk kontribusi akademik, tetapi juga sarana nyata mengimplementasikan ilmu dan kreativitas dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Pendekatan multidisiplin yang saya terapkan diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya, untuk turut serta menjadi agen perubahan dalam pemberdayaan UMKM dan PKL di sekitar mereka—bukan hanya melalui bantuan teknis administratif seperti NIB dan sertifikasi halal, tetapi juga lewat pemikiran kreatif dan solusi praktis berbasis teknologi dan gaya hidup sehat.

Sebagaimana disampaikan oleh Solekah, pelaku usaha Happy Juice, “Saya merasa sangat terbantu dengan cara pendekatan yang dilakukan oleh mahasiswa, bukan hanya dari sisi sertifikasi, tapi juga dari bagaimana produk saya lebih dikenal dan punya nilai lebih di mata pembeli.”

Dengan adanya keterlibatan langsung, saya belajar bahwa membangun perubahan tidak harus dari sesuatu yang besar, tapi dari intervensi kecil yang tepat sasaran, kontekstual, dan konsisten.

Editor: Handayat