JATENGKU.COM, Yogyakarta — Proses pembelajaran di TK Masyithoh Budi Lestari Dusun Kepek kini semakin hidup dan bermakna dengan penerapan pendekatan Islamik Montessori dalam kegiatan belajar mengajar. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pengembangan kognitif anak, tetapi juga menanamkan nilai-nilai spiritual dan karakter islami sejak dini.
Islamik Montessori merupakan adaptasi dari metode Montessori yang digagas oleh Maria Montessori, dengan penambahan unsur nilai-nilai keislaman di dalamnya. Prinsip utamanya menekankan kemandirian anak dalam belajar, eksplorasi lingkungan sekitar, serta pengembangan potensi melalui aktivitas sensorik dan praktikal. Dalam konteks Islamik Montessori, kegiatan tersebut disinergikan dengan pembiasaan ibadah, adab, dan akhlak mulia, sehingga anak tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter religius.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa KKN Untidar turut membantu guru dalam proses belajar mengajar di kelas. Kegiatan diawali dengan observasi metode pembelajaran yang sudah diterapkan oleh guru, kemudian dilanjutkan dengan pendampingan langsung dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
Anak-anak diajak belajar melalui permainan edukatif dengan menggunakan media seperti Loose Parts, kertas lipat, lego, balok dll. Dilakukan juga pengenalan huruf hijaiyah dengan cara bernyanyi dan menebalkan huruf pada buku latihan, lebih lanjut pembelajaran pada TK Masyithoh juga mempraktikan keilmuan sains sederhana melalui pengenalan bentuk geometri. Selain pembelajaran edukatif anak-anak TK juga dilatih kemandirian seperti merapikan alat belajar dan menyiapkan perlengkapan sendiri.

Guru-guru di TK Masyithoh Budi Lestari terus didorong untuk mengembangkan media pembelajaran kreatif berbasis teknologi melalui pemanfaatan Smart TV dan Interactive Flat Panel (IFP) atau Smart TV interaktif. Secara rinci, kelas TK kecil menggunakan Smart TV, sedangkan kelas TK besar memanfaatkan Interactive Flat Panel (IFP) atau Smart TV interaktif. Penggunaan media teknologi tersebut diarahkan untuk pendalaman materi pembelajaran sekaligus meningkatkan tingkat atensi anak-anak TK selama proses belajar berlangsung.
Kepala TK Masyithoh Budi Lestari yakni Ibu Hanif menyampaikan rasa syukur serta penghargaan atas terlaksananya kegiatan pendampingan tersebut dalam keterangannya. Ia menuturkan bahwa pendekatan Islamik Montessori memberikan warna baru dalam kegiatan belajar di TK. Anak-anak menjadi lebih fokus, mandiri, dan berani berekspresi. Selain itu, metode ini juga membantu guru dalam menumbuhkan semangat mengajar dengan cara yang lebih kreatif dan menyenangkan.
“Anak-anak terlihat lebih semangat dan bahagia saat belajar karena mereka bisa terlibat langsung dalam kegiatan belajar mengajar. Kami juga terbantu dalam memahami bagaimana mengaitkan metode Montessori dengan nilai-nilai islami,” ungkap Ibu Hanif selaku kepala sekolah
Dampak positif dari penerapan Islamik Montessori terlihat dari meningkatnya partisipasi aktif anak-anak selama proses pembelajaran. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga terlibat dalam berbagai aktivitas langsung, seperti menulis menggunakan loose parts, menggambar dan mewarnai menggunakan pasta, membuat miniatur masjid dan kereta api dari lego, menyusun rel kereta dengan balok kayu, hingga menceritakan pengalaman ibadah sehari-hari. Beragam aktivitas tersebut membantu menumbuhkan rasa tanggung jawab, kemandirian, serta kepekaan sosial pada anak.
Melalui kegiatan ini, diharapkan TK Masyithoh Budi Lestari dapat terus mengembangkan pola pembelajaran yang selaras dengan nilai-nilai Islam serta kebutuhan tumbuh kembang anak usia dini. Penerapan Islamik Montessori tidak hanya dipandang sebagai pendekatan belajar semata, tetapi juga sebagai upaya membentuk generasi muda yang cerdas, berkarakter kuat, dan berakhlak mulia.

Sejalan dengan berbagai dampak positif yang telah dirasakan, optimalisasi penerapan pendekatan Islamik Montessori di TK Masyithoh Budi Lestari diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi lembaga pendidikan anak usia dini di Dukuh Kepek dan sekitarnya dalam mengembangkan pola pembelajaran yang seimbang antara penguasaan ilmu pengetahuan dan penanaman nilai-nilai spiritual. Dengan pendekatan tersebut, proses belajar pada usia dini tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga pada pembentukan fondasi moral dan karakter sebagai bekal anak-anak dalam menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya.








