JATENGKU.COM, Surabaya — Pendidikan ibarat fondasi bangunan yang kokoh, yang membentuk individu menjadi pribadi yang kritis dan berpotensi maksimal. Agar seseorang bisa mencapai potensi maksimalnya diperlukan pendidikan yang memadai, mulai dari segi sistem, fasilitas, hingga pengajaran.

Negara-negara yang maju seperti Finlandia dan Singapura selalu menempatkan pendidikan di prioritas utama mereka dengan alokasi anggaran hingga 7% dari PDB mereka. Karena sejatinya sebuah bangsa akan dilanjutkan oleh generasi penerus, maka penting untuk memupuk setiap generasi dengan pendidikan yang berkualitas agar bisa memperkokoh tatanan bangsa tersebut di masa yang akan datang.

Dengan bonus demografi yang diprediksi mencapai puncak pada 2045, di mana jumlah penduduk usia produktif akan melonjak, pendidikan berkualitas menjadi esensial untuk mencegah kemerosotan bangsa.

Sayangnya, negara kita masih menomorduakan isu pendidikan. Mulai dari kesejahteraan tenaga pendidik yang keringatnya tak dibayar dengan upah yang sepadan: gaji guru sering kali di bawah UMR, dengan rata-rata hanya Rp2-3 juta/ bulan sehingga profesi ini dianggap opsi terakhir, hingga sistem pendidikan yang tidak tereksekusi dengan baik.

Semisal, dalam hal infrastruktur pendidikan yang tidak merata dengan hanya 60% sekolah di daerah terpencil memiliki fasilitas dasar. Akibatnya, banyak generasi muda yang berisiko tidak terbekali dengan ilmu pengetahuan yang cukup untuk menjadi sumber daya yang kompeten.

Apa gunanya tenaga kerja yang melimpah nampun tidak dibekali dengan kompetensi yang layak? Yang ada hanya kita akan menyaksikan negara ini sedikit demi sedikit merosot, sekali lagi gagal dalam mengeksekusi sumber daya yang berharga dan segala kesempatan yang tak datang dua kali.

Lantas, apa saja yang perlu diperbaiki? Pemerintah harus mengalokasikan dana yang besar untuk ranah pendidikan dengan mengikuti anjuran sebesar minimal 5% PDB untuk pendidikan seperti menurut UNESCO. Dengan ini prioritas utama bisa dialokasikan untuk menjamin kesejahteraan para tenaga pendidik dengan gaji yang layak.

Seleksi untuk menjadi seorang guru juga harus lebih diperketat, diikuti dengan pelatihan secara berkala oleh dinas pendidikan untuk memastikan kualitas pengajaran. Pengawasan ketat juga diperlukan agar guru dapat bertugas dengan serius. Langkah terakhir, adalah memperbaiki infrastruktur untuk mendukung pemerataan pendidikan ke setiap Wilayah Indonesia melalui program digitalisasi sekolah di wilayah kecil.

Sebagai bagian dari generasi emas, kita bisa memulai perubahan kecil yang dimulai dari diri kita sendiri sebagai bentuk berkontribusi untuk awal dari sebuah perubahan. Bisa dimulai dari hal kecil seperti meningkatkan semangat belajar kita agar dapat mencapai hasil yang maksimal. Dengan menumbuhkan semangat belajar yang tinggi, kita akan terbiasa untuk menjadi haus akan ilmu baru dan mendorong adanya inovasi.

Tidak hanya itu, di era digital ini, kita juga harus mulai untuk mengembangkan kemampuan literasi kita agar dapat mencerna segala informasi dengan cermat dan adaptif dengan perkembangan teknologi. Sebagai Warga Indonesia, tak lupa juga hal terpenting yang jadi pijakan utama adalah menanamkan karakter Pancasila pada perilaku kita sehari-hari.

Kemajuan pendidikan mungkin terlihat cukup jauh dari pandangan, namun jika kita bisa bergerak bersama melalui suatu perubahan, pasti akan terwujud. Menuju kamu, kita, dan Indonesia yang lebih baik.

Penulis: Laqueena Ziva Julietta Har (113251050), Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Editor: Handayat