JATENGKU.COM, BATANG — Upaya memperkuat sektor ekonomi desa kembali dilakukan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro. Kelompok 4 Tim 67 KKNT IDBU yang ditempatkan di Desa Sangubanyu, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, melaksanakan program sosialisasi dan pendampingan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada Selasa, 12 Agustus 2025.
Program ini menyasar dua pelaku usaha lokal yang cukup dikenal masyarakat, yakni Ahmad Zidan, pemilik usaha kopi khas dari Dukuh Jetis, serta H. Zaeni, pengusaha rengginang yang juga berdomisili di dukuh yang sama.
H. Zaeni mengaku pernah mencoba membuat NIB, namun proses tersebut terhenti di tengah jalan karena dianggap rumit dan membingungkan. “Dulu itu udah proses bikin, tapi nggak dilanjut. Soalnya susah, saya nggak paham gimana caranya,” ungkapnya.
Hal serupa juga dialami Ahmad Zidan, yang meskipun telah belasan tahun menggeluti usaha kopi rumahan, belum memiliki legalitas usaha. Ia mengaku usahanya dijalankan secara turun-temurun tanpa pemahaman akan pentingnya identitas resmi usaha.
Menjawab tantangan tersebut, Kelompok 4 Tim 67 KKNT IDBU menerapkan metode jemput bola dalam proses pendampingan. Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai pentingnya NIB sebagai identitas legal dan akses resmi bagi pelaku UMKM untuk berkembang. Setelah itu, tim mahasiswa membantu kedua pelaku usaha mengumpulkan dokumen yang diperlukan, mulai dari data pribadi hingga informasi lengkap tentang usaha mereka.
Pembuatan NIB dilakukan secara daring melalui aplikasi Online Single Submission (OSS) milik pemerintah. Dengan pendampingan intensif, baik Ahmad Zidan maupun H. Zaeni akhirnya berhasil menerbitkan NIB masing-masing, menjadikan usaha mereka kini resmi terdaftar secara hukum.
Program sosialisasi dan pendampingan ini menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam menjawab tantangan digitalisasi dan legalitas usaha kecil di perdesaan. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat seperti ini diharapkan dapat mengoptimalkan potensi desa.










