JATENGKU.COM, SUKOHARJO – Jumat (18/07/2025), ruang kelas SD Negeri 3 Plumbon dipenuhi tawa riang 45 siswa dari kelas IV, V, dan VI. Mereka bukan sekadar belajar di bangku, melainkan langsung mempraktikkan cara menanam biji kacang hijau di atas media kapas, sebuah pembelajaran klasik yang dikemas ulang dengan sentuhan modern.
Program ini digagas oleh Tazkiya Januba Zahro’, mahasiswa Program Studi Agroekoteknologi angkatan 2022, sebagai bagian dari kegiatan KKN Tim II IDBU 29 Plumbon Sukoharjo. Tujuannya jelas: menanamkan nilai cinta lingkungan sejak dini melalui pengalaman langsung yang sederhana, menarik, dan mudah diikuti.
“Sebenarnya menanam kacang hijau sudah menjadi materi standar di sekolah dasar sejak dulu, tapi saya melihat banyak anak yang kurang tertarik karena cara penyampaiannya yang itu-itu saja. Makanya saya ingin memberikan pendekatan yang lebih fresh dan menarik dengan media visual yang lebih modern, seperti video time-lapse dan poster edukatif yang colorful,”. Jelas Tazkiya.
Kegiatan edukasi yang berlangsung selama satu hari penuh dengan melibatkan 45 siswa dari kelas 4 hingga kelas 6 ini bertujuan menghidupkan kembali rasa penasaran anak-anak terhadap alam dan proses pertumbuhan tanaman.
Menghidupkan Kembali Pembelajaran Klasik dengan Pendekatan Modern
Program edukasi ini lahir dari keprihatinan mahasiswa terhadap menurunnya minat anak-anak pada kegiatan bercocok tanam. Padahal, menanam kacang hijau sebenarnya sudah menjadi bagian dari kurikulum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sekolah dasar sejak puluhan tahun lalu. Namun, penyampaian yang monoton dan kurangnya inovasi dalam metode pembelajaran membuat anak-anak menganggap aktivitas ini sebagai tugas biasa yang membosankan.
“Era digital seperti sekarang, anak-anak lebih tertarik dengan gadget dan permainan online. Padahal, interaksi langsung dengan alam itu sangat penting untuk perkembangan karakter mereka. Makanya saya coba gabungkan teknologi dengan pembelajaran tradisional,” ungkap Tazkiya.
Melalui inovasinya, pembelajaran menanam kacang hijau yang dulunya hanya berupa teori dan praktik sederhana, kini dikemas dengan multimedia interaktif yang mampu mempertahankan fokus dan antusiasme anak-anak sepanjang kegiatan.
Transformasi Pembelajaran: dari Monoton Menjadi Menarik
Berbeda dengan pembelajaran konvensional yang hanya menggunakan buku teks dan praktik sederhana, Tazkiya menghadirkan pengalaman belajar yang lebih komprehensif dan engaging. Program ini tidak sekadar memberikan penjelasan teoritis, melainkan mengombinasikan pembelajaran dengan praktik langsung yang melibatkan seluruh siswa secara aktif.

Kegiatan praktik menanam dilakukan dalam dua tahap yang terstruktur. Pada tahap pertama, siswa melakukan praktik dengan bimbingan dan pendampingan langsung dari mahasiswa. Tazkiya memberikan arahan step-by-step mulai dari cara menyiapkan media kapas, merendam biji kacang hijau, hingga teknik penyiraman yang tepat.
“Awalnya anak-anak masih ragu-ragu dan banyak bertanya. Saya dampingi mereka satu per satu, memastikan setiap langkah dilakukan dengan benar,” jelas Tazkiya sambil mengamati antusiasme para siswa.
Namun yang menarik, pada tahap kedua, para siswa diminta melakukan praktik menanam secara mandiri tanpa bantuan dari mahasiswa pendamping. Mereka hanya berbekal pengetahuan yang telah diperoleh dari sesi pertama dan panduan poster yang telah dibagikan.
Bu Fitri Nur Budi Astuti, Wali kelas 5, terkagum melihat kemandirian dan antusiasme siswa-siswanya. “Luar biasa! Anak-anak bisa melakukannya sendiri dengan percaya diri. Mereka bahkan saling membantu teman yang masih kesulitan. Ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar memahami prosesnya, bukan hanya meniru,” ungkapnya.
Untuk mendukung proses pembelajaran, mahasiswa telah menyiapkan berbagai media edukatif yang menarik. Poster edukasi yang berisi panduan lengkap cara menanam kacang hijau beserta tabel pengamatan dibagikan kepada setiap siswa sebagai panduan praktik di rumah.
Selain itu, presentasi PowerPoint dilengkapi dengan video time-lapse pertumbuhan kacang hijau yang memukau anak-anak. Video tersebut memperlihatkan proses perkecambahan dan pertumbuhan tanaman secara detail, mulai dari biji yang direndam hingga menjadi kecambah yang siap dipindahkan ke media tanam yang lebih besar.
Rafif, siswi kelas 5, mengaku awalnya merasa nervous saat praktik pertama dengan bimbingan mahasiswa. “Kak ini, kapasnya jangan terlalu basah kan kak?, berarti nggak usah di peras kan kapasnya?,” kata Rafif. Namun ketika diminta praktik kedua secara mandiri, Rafif terlihat jauh lebih percaya diri. “Ternyata gampang, ya! Aku bisa sendiri, lho, Kak. Terus ini nanti mau aku bawa pulang, lalu mau aku amati biar seperti yang di video tadi,”lanjutnya dengan bangga.
Yang paling menggembirakan adalah melihat siswa-siswa saling berbagi pengetahuan dan membantu satu sama lain tanpa diminta. Mereka yang sudah menguasai teknik dengan baik secara spontan membantu teman-teman yang masih mengalami kesulitan.
Melalui kegiatan dua tahap ini, siswa tidak hanya belajar tentang teknis menanam dan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga mengembangkan nilai-nilai kemandirian dan kerjasama. Para siswa diajak berdiskusi tentang manfaat tanaman bagi kehidupan dan bagaimana cara merawat lingkungan sekitar.
Kepala SD Negeri 3 Plumbon, yang menyaksikan langsung kedua sesi praktik, memberikan apresiasi tinggi terhadap metode pembelajaran yang diterapkan. “Saya melihat anak-anak berkembang dalam waktu singkat. Dari yang awalnya takut-takut dan selalu bertanya, menjadi percaya diri dan bahkan bisa mengajarkan temannya. Ini adalah pembelajaran life skill yang sangat berharga,” ungkapnya.
Program edukasi yang berlangsung dari pagi hingga siang hari ini ditutup dengan pembagian bibit kacang hijau dan komitmen siswa untuk merawat tanaman mereka hingga panen. Para siswa juga diminta mengisi tabel pengamatan pertumbuhan tanaman selama seminggu ke depan sebagai tugas tindak lanjut.
Kegiatan yang mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk turut berkontribusi dalam pendidikan karakter dan kesadaran lingkungan generasi penerus bangsa.
Penulis: Tazkiya Januba Zahro’











