JATENGKU.COM, KAB. SEMARANGMahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Kelompok 18 Bandarjo turut ambil bagian dalam pelestarian kearifan lokal melalui kegiatan “Sadrangan” atau Nyadran di Kelurahan Bandarjo, Kecamatan Ungaran Barat. Partisipasi mahasiswa ini menjadi wujud nyata kolaborasi generasi muda dalam menjaga denyut tradisi agar tidak tergerus zaman.

Nyadran di Kelurahan Bandarjo bukanlah sekadar ritual tahunan, melainkan tradisi yang sarat nilai religi dan kohesi sosial. Kegiatan ini digelar secara rutin dua kali setahun, yakni pada bulan Rajab dan bulan Safar. Uniknya, pelaksanaan Sadrangan tidak terpusat di satu titik, melainkan menyebar di seluruh area pemakaman yang ada di wilayah Kelurahan Bandarjo, menciptakan suasana khidmat yang menyeluruh.

Demi kelancaran acara, kepanitiaan diorganisir langsung oleh pengurus RW di masing-masing wilayah. Manajemen berbasis komunitas ini membuat pelaksanaan Nyadran menjadi lebih tertata rapi dari tahun ke tahun, mulai dari persiapan lokasi hingga puncak acara doa bersama.

Esensi utama dari Sadrangan adalah “birrul walidain” atau berbakti kepada orang tua dan leluhur yang telah tiada. Salah satu tokoh masyarakat Bandarjo mengungkapkan harapannya agar tradisi ini terus menjadi pengingat bagi warga.

“Diharapkan masyarakat masih selalu ingat kepada leluhurnya. Biasanya, antusiasme warga terlihat tinggi, terutama pada malam Jumat Kliwon di mana banyak ahli waris datang khusus untuk mendoakan,” ujarnya.

Sisi menarik dan humanis dari tradisi ini terlihat dari “ubarampe” atau bekal yang dibawa warga. Sifatnya terbuka untuk umum, warga datang membawa makanan dari rumah dengan sukarela. Yang menyentuh hati, makanan yang dibawa seringkali adalah menu kesukaan almarhum/almarhumah anggota keluarga mereka semasa hidup. Hal ini menjadi simbol penghormatan dan wujud kasih sayang yang tak putus meski terpisah dunia.

Nilai gotong royong sangat kental terasa dalam aspek pendanaan. Kegiatan Sadrangan ini murni berjalan tanpa anggaran khusus dari lembaga, melainkan dari swadaya masyarakat. Keikhlasan warga dalam berkontribusi sesuai kemampuan menjadi bahan bakar utama yang membuat tradisi ini terus berjalan lancar tanpa beban biaya yang mengikat.

Kehadiran mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 18 di tengah-tengah masyarakat Bandarjo diharapkan tidak hanya sekadar menggugurkan kewajiban akademik, namun juga menjadi jembatan antargenerasi. Dengan berbaur dan memahami prosesi Sadrangan, mahasiswa turut serta memastikan bahwa nilai-nilai luhur dan doa-doa baik dalam tradisi ini akan terus bergema di masa depan.

Editor: Handayat

Tag