JATENGKU.COM, Semarang — Minyak jelantah merupakan limbah rumah tangga yang sering dihasilkan dari aktivitas memasak sehari-hari. Apabila dibuang secara sembarangan, minyak jelantah dapat mencemari lingkungan, merusak kualitas tanah dan air, serta berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.

Di sisi lain, masih terbatasnya pemanfaatan minyak jelantah oleh masyarakat menyebabkan limbah ini belum dikelola secara optimal. Melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik Tim 08 (KKN-T), mahasiswa berupaya memberikan solusi inovatif dan berkelanjutan dengan mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi. Produk ini tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga memiliki manfaat relaksasi serta ramah lingkungan.

Kegiatan tersebut diselenggarakan pada Minggu (18/01/2026) di RW 04, Kelurahan Ngemplak Simongan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang bersama dengan Ibu Dawis dengan jumlah 13 orang.

Hasil produk lilin aromaterapi.

Minyak goreng memiliki batas aman penggunaan ulang yang dianjurkan, yaitu tidak lebih dari tiga kali proses penggorengan. Penggunaan minyak goreng secara berulang melebihi batas tersebut dapat menurunkan kualitas minyak dan berpotensi membahayakan kesehatan. Konsumsi minyak goreng bekas atau minyak jelantah secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti penyakit kardiovaskular, penyempitan pembuluh darah, hipertensi, stroke, hingga kanker.

Minyak jelantah yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah dan dibuang begitu saja sebenarnya memiliki potensi untuk diolah kembali menjadi produk yang lebih aman dan bernilai guna. Salah satu bentuk pemanfaatannya adalah sebagai bahan dasar pembuatan lilin aromaterapi. Lilin aromaterapi merupakan jenis lilin yang diperkaya dengan minyak esensial, yang akan menguap ke udara saat proses pembakaran. Senyawa aromatik yang dihasilkan tersebut diketahui dapat memberikan efek menenangkan, membantu mengurangi tingkat stres, serta berkontribusi dalam meningkatkan kualitas istirahat dan tidur.

Pembuatan lilin aromaterapi membutuhkan beberapa bahan, yaitu minyak jelantah, stearic acid, pewarna/crayon, esensial lavender, sumbu lilin, dan wadah/gelas. Tahap awal dilakukan dengan merendam minyak jelantah menggunakan arang selama 24 jam untuk mengurangi bau sisa masakan.

Selanjutnya, minyak jelantah dipanaskan dengan api kecil kemudian masukan stearic acid hingga tercampur merata, dengan stearic acid berfungsi sebagai pengeras lilin, setelah itu masukan pewarna sesuai selera. Saat bahan tersebut sudah setengah dingin masukan essensial oil aroma lavender, kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang tahan panas, seperti gelas kaca atau cetakan berbahan gipsum. Lilin didiamkan hingga mengeras dan siap digunakan.

Manfaat dari penggunaan kembali limbah minyak jelantah yaitu untuk mengurangi limbah minyak jelantah, menghasilkan produk yang ramah lingkungan, memiliki nilai ekonomi tambahan, menghasilkan lilin aromaterapi yang bermanfaat bagi kesehatan.

Editor: Handayat

Tag