SRAGEN – Musim panen yang seharusnya menjadi momen sukacita, sering kali menyisakan ganjalan bagi petani tembakau di Dukuh Gebang, Desa Sumberejo. Kendala utama yang mereka hadapi bukanlah lahan atau bibit, melainkan antrean panjang penggunaan mesin perajang.
Bayangkan saja, satu unit mesin perajang harus digunakan bergantian oleh lima kepala keluarga. Akibatnya, petani harus mengantre hingga satu minggu penuh untuk bisa mengolah hasil panen mereka. Realita inilah yang menggerakkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) Tim 119 untuk turun tangan.
Bukan Ikan, Melainkan Kail
Alih-alih memberikan bantuan unit mesin yang jumlahnya terbatas, tim KKN Undip memilih pendekatan pemberdayaan yang berkelanjutan. Mereka merancang dan menyusun “Buku Panduan Lengkap Pembuatan Mesin Perajang Tembakau Sederhana”.
“Prinsip kami adalah teach them how to fish. Dengan buku panduan yang mudah dipahami ini, kami berharap warga, terutama tukang las lokal, dapat memproduksi mesin sendiri. Ini solusi untuk memutus ketergantungan dan mempercepat pengolahan hasil panen,” ujar “Jonatan Hutapea”, perwakilan mahasiswa KKN Undip.
Mendorong Kemandirian Teknologi Lokal
Buku panduan tersebut berisi langkah-langkah teknis yang detail, mulai dari pemilihan material, Rancangan Biaya, Cara pemeliharaan mesin hingga perakitan komponen. Harapannya, pengetahuan ini menetap di desa dan menjadi aset jangka panjang bagi masyarakat.
“Kami ingin warisan kami di sini bukan sekadar alat fisik yang bisa rusak, tapi ilmu yang bisa disebarluaskan. Buku ini adalah cara agar pengetahuan itu tetap ada dan bisa direplikasi oleh siapa pun, kapan pun dibutuhkan,” tambah “Jonatan Hutapea”.
Penyerahan buku panduan secara simbolis telah dilakukan kepada perangkat desa dan kelompok tani setempat. Dengan adanya panduan ini, Desa Sumberejo berpotensi melahirkan teknisi lokal yang mampu memproduksi mesin perajang secara mandiri, sekaligus mengakhiri budaya antre panjang yang selama ini menghambat produktivitas ekonomi petani.











