JATENGKU.COM, Surabaya — Kesehatan Masyarakat tidak semata-mata bergantung pada ketersediaan fasilitas medis atau kemajuan obat-obatan, melainkan juga pada elemen dasar yang sering terabaikan: sanitasi.
Sanitasi yang memadai adalah dasar penting untuk menjaga kesehatan umum, karena berperan dalam mencegah penyakit, meningkatkan kualitas hidup, dan mengurangi beban layanan kesehatan. Namun, di Indonesia, akses terhadap sanitasi yang baik masih tidak merata hingga saat ini, yang menjadi hambatan besar bagi peningkatan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Sanitasi sebagai Fondasi Kesehatan Masyarakat
Sanitasi yang baik meliputi pengelolaan air bersih, penanganan limbah manusia, dan pengaturan sampah yang aman. Aspek-aspek ini penting untuk menghindari penyebaran penyakit dan menjaga kebersihan lingkungan. Tanpa sistem sanitasi yang layak, masyarakat akan hidup berdampingan dengan sumber penyakit yang tak kasat mata.
Sanitasi yang buruk di negara berkembang sering kali menjadi penyebab utama berbagai penyakit akibat air yang tercemar dan lingkungan yang tidak sehat. Penyakit seperti diare, kolera, tifus, dan hepatitis A adalah contoh nyata dari kondisi ini. Di Indonesia, diare masih menjadi penyebab utama kematian anak di bawah usia lima tahun, khususnya di daerah dengan sanitasi yang kurang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa memperbaiki sanitasi tidak hanya masalah infrastruktur, tetapi juga tantangan mendesak dalam kesehatan masyarakat.
Ketika seseorang tinggal di tempat dengan sanitasi buruk, risiko terpapar bakteri, virus, dan parasit meningkat drastis. Air yang digunakan untuk minum, memasak, dan mencuci bisa menjadi sarana penularan penyakit. Lingkungan yang kotor juga menjadi sarang bagi serangga seperti lalat dan nyamuk yang membawa penyakit. Akibatnya, penyakit menular mudah menyebar, terutama di area padat penduduk.
Ketimpangan Akses dan Efeknya pada Kesehatan
Sayangnya, akses terhadap sanitasi yang layak masih belum merata di Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2023 menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah pedesaan jauh tertinggal dari perkotaan dalam fasilitas sanitasi. Di banyak desa, penduduknya masih menggunakan sungai untuk mandi dan buang air besar, yang membuat sungai tercemar dan menjadi sumber penyakit.
Ketimpangan ini menciptakan perbedaan besar dalam tingkat kesehatan antarwilayah. Penduduk kota dengan akses air bersih dan sistem pembuangan yang baik memiliki risiko penyakit lebih rendah daripada pedesaan. Selain itu, keluarga dengan sanitasi baik biasanya memiliki anak yang lebih sehat, karena risiko infeksi usus dan malnutrisi berkurang. Sebaliknya, anak-anak di lingkungan sanitasi buruk lebih rentan mengalami stunting akibat infeksi berulang dan penyerapan nutrisi yang terganggu.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, ketidakmerataan sanitasi berarti ketidaksetaraan peluang untuk hidup sehat. Ini bukan hanya persoalan kenyamanan, melainkan juga hak dasar setiap warga negara untuk menikmati lingkungan bersih dan aman bagi kesehatan.
Dampak Jangka Panjang pada Sistem Kesehatan
Sanitasi yang buruk tidak hanya meningkatkan angka sakit, tetapi juga membebani sistem kesehatan. Rumah sakit dan puskesmas di daerah sanitasi rendah sering kali dipenuhi pasien dengan penyakit yang seharusnya bisa dicegah. Akibatnya, tenaga medis dan anggaran kesehatan habis untuk menangani infeksi berulang, sementara program pencegahan penyakit lain terabaikan.
Selain itu, beban ekonomi dari sanitasi yang buruk cukup besar. Keluarga harus mengeluarkan biaya pengobatan, kehilangan waktu produktif, dan mengalami penurunan kualitas hidup. Secara nasional, ini menyebabkan pemborosan sumber daya kesehatan yang seharusnya bisa dialokasikan untuk layanan medis atau penelitian. Oleh karena itu, memperbaiki sanitasi adalah strategi pencegahan penyakit yang efisien dan penguatan sistem kesehatan nasional.
Pencegahan dengan Sanitasi yang Baik
Upaya menjaga kesehatan masyarakat tidak akan berhasil tanpa memperbaiki sanitasi. Pemerintah Indonesia telah menjalankan program seperti Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), yang bertujuan mengubah perilaku masyarakat agar lebih peduli kebersihan lingkungan. Pendekatan berbasis masyarakat ini penting karena perilaku hidup bersih adalah kunci keberhasilan.
Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan toilet tertutup, dan mengelola limbah dengan benar terbukti efektif menurunkan angka penyakit menular. Namun, perubahan ini butuh waktu dan edukasi berkelanjutan. Kampanye kesehatan publik harus diperkuat untuk meningkatkan kesadaran bahwa sanitasi adalah bagian dari kesehatan, bukan hanya kebersihan.
Selain edukasi, investasi infrastruktur sanitasi juga tak kalah penting. Pembangunan sarana air bersih, toilet umum yang layak, dan sistem pembuangan limbah yang aman harus menjadi prioritas dalam kebijakan kesehatan. Sanitasi tidak boleh dianggap sebagai urusan teknis pekerjaan umum semata, melainkan bagian integral program kesehatan nasional.
Sanitasi untuk Masa Depan yang Lebih Sehat
Ketidakmerataan sanitasi yang layak di Indonesia bukan hanya masalah pembangunan, melainkan juga masalah kesehatan masyarakat yang mendasar. Lingkungan kotor dan air yang tercemar akan terus menciptakan siklus penyakit jika akses sanitasi tidak diperbaiki.
Sanitasi baik berarti mencegah penyakit dari akar, sebelum pasien datang ke rumah sakit. Ini adalah investasi kesehatan yang paling murah, efektif, dan manusiawi. Pemerataan akses sanitasi harus menjadi prioritas utama dalam kebijakan kesehatan nasional, karena hanya dengan lingkungan yang bersih dan sehat, bangsa ini dapat mewujudkan masyarakat yang benar-benar sehat dan produktif.
Maka dari itu, kesehatan tidak hanya tentang pengobatan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga kebersihan tempat kita hidup. Sanitasi adalah langkah awal menuju Indonesia yang lebih sehat, kuat, dan bermartabat.
REFERENSI
- Universitas Gadjah Mada. (2015). Diare Rotavirus Masih Menjadi Penyebab Kematian Tertinggi Balita. https://ugm.ac.id/id/berita/10226-diare-rotavirus-masih-menjadi-penyebab-kematian-tertinggi-balita/ [online]. (diakses tanggal 8 November 2025).
- Badan Pusat Statistik. (2023). Proportion of Households Who Have Access to Decent and Sustainable Sanitation Services (percent). https://www.bps.go.id/en/statistics-table/2/MTI2NyMy/proportion-of-households-who-have-access-to-decent-and-sustainable-sanitation-services–percent-.html [online]. (diakses tanggal 8 November 2025).
- Dinas Kesehatan Kabupaten Empat Lawang. (2024). Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). https://dinkes.empatlawangkabgo.id/2024/01/14/sanitasi-total-berbasis-masyarakat-stbm/ [online]. (diakses tanggal 8 November 2025).
Penulis: Ellena Maydivera Kusuma, Mahasiswa Universitas Airlangga






