JATENGKU.COM, BOYOLALI — Mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) dari berbagai jurusan berkolaborasi dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II dan Tim-87 2025 untuk memberdayakan pelaku UMKM dan masyarakat Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali. Melalui sinergi lintas disiplin, mereka menghadirkan beragam program mulai dari peningkatan literasi data, pelestarian budaya lokal, inovasi teknologi berbasis potensi alam, hingga penguatan keterampilan komunikasi pelaku usaha.
Inovasi Teknologi: Daun Pepaya untuk Kebersihan Produksi Keju
Melihat potensi alam yang melimpah, Zanuba bersama tim yang terdiri dari Deny, Rizza, Daffa, dan Nicholas menghadirkan inovasi pembersih alat produksi keju berbahan dasar daun pepaya pada Rabu (2/7) di Desa Banyuanyar. Kandungan enzim papain dalam daun pepaya terbukti efektif membersihkan sisa lemak dan protein, sekaligus ramah lingkungan dan hemat biaya.
“Kami berinovasi membuat pembersih berbahan dasar daun pepaya dikarenakan potensi daun pepaya yang besar di Desa Banyuanyar, tapi masyarakat belum bisa memanfaatkannya secara maksimal, padahal daun pepaya memiliki kandungan papain yang efektif dalam membersihkan sisa lemak dan protein,” tutur Zanuba selaku koordinator program.
Kegiatan pelatihan pembuatan larutan pembersih ini melibatkan kelompok ternak, ibu-ibu PKK, dan tokoh masyarakat. Peserta diajarkan mulai dari penghancuran daun, perendaman, penyaringan, hingga pengaplikasian. Warga seperti Ibu Ning mengaku baru mengetahui manfaat besar daun pepaya, yang sebelumnya hanya dianggap limbah pekarangan.
“Iya mba saya baru tahu kalau daun pepaya bisa jadi bahan pembersih alat produksi keju, padahal ada banyak daunnya, tapi ga pernah kepikiran,” ucapnya.
Penguatan Keterampilan Public Speaking untuk Promosi
Selanjutnya pada Kamis (3/7), Aisyah dan tim yang terdiri dari Mirtha dan Misykah menyelenggarakan pelatihan public speaking di Omah Cowboy untuk mendukung strategi pemasaran. Materi mencakup teknik berbicara percaya diri, penyusunan narasi produk, penggunaan bahasa tubuh yang tepat, hingga latihan promosi dalam bahasa Inggris untuk menghadapi wisatawan asing.
Peserta yang terdiri dari beberapa pelaku UMKM, berlatih melalui simulasi presentasi produk dan latihan intonasi. Ibu Ratih, salah satu peserta, mengaku kini lebih percaya diri mempromosikan produknya setelah mengikuti pelatihan ini.
“Awalnya saya malu dan bingung harus bicara apa. Tapi setelah diberi contoh dan dilatih, saya jadi lebih siap dan tidak grogi lagi saat menjelaskan produk, apalagi tadi mba nya ngajarin juga pake bahasa Inggris,” ujarnya.
Aisyah menambahkan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas diri pelaku UMKM agar lebih mampu bersaing dan memasarkan produknya secara luas.
“Banyak produk lokal berkualitas, tetapi belum dikenal luas karena kurang optimal dalam hal promosi. Kami berharap pelatihan ini menjadi langkah awal dalam membangun kepercayaan diri dan citra usaha mereka,” ungkapnya
Literasi Data untuk UMKM Lebih Cerdas
Dari bidang statistika, Robin menginisiasi pelatihan “Pemberdayaan Pelaku UMKM untuk Melek Data” di UMKM Omah Susu Cowboy. Peserta diperkenalkan pada konsep dasar data, pentingnya pencatatan produksi harian, serta penggunaan survei kepuasan pelanggan berbasis Google Form untuk mendengarkan konsumen dan meningkatkan layanan.
Alya melanjutkan dengan pelatihan analisis deskriptif menggunakan Google Looker Studio. Pelaku UMKM diajak mengolah hasil survei menjadi grafik dan dashboard interaktif agar mudah memahami pola dan membuat keputusan berbasis data. Pelatihan ini dilakukan dengan metode praktik langsung, mulai dari menyusun instrumen survei, menginput data, hingga membaca hasil visualisasi.
Pelestarian Tradisi dan Budaya Lokal
Dari ranah humaniora, Pinkan, Ridha, dan Puja mengangkat kekayaan lokal melalui video singkat “Pengenalan Tradisi dan Budaya di Desa Banyuanyar”. Video singkat ini menampilkan tradisi Sadranan, Kenduri Wiwit Kopi, hingga Kesenian Budaya yang ada di Desa Banyuanyar. Pendekatan visual ini bertujuan untuk menjaga identitas budaya sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda dan masyarakat luar melalui media sosial.
Program ini melibatkan pelaku UMKM, Karang Taruna Dukuh Wangan, kelompok peternak sapi perah, serta warga desa. Mereka berperan aktif, baik dalam pelatihan survei, pembuatan konten promosi, pembersihan alat produksi keju, maupun pendokumentasian budaya.
Masyarakat berharap pendampingan dapat berlanjut, khususnya dalam pengolahan data pelanggan, strategi branding, dan inovasi berbasis potensi lokal. Mereka mulai menyadari bahwa kemajuan desa dapat dicapai tidak hanya melalui teknologi, tetapi juga dengan menjaga tradisi dan memanfaatkan sumber daya yang ada.
Kombinasi literasi data, pelestarian budaya, inovasi teknologi tepat guna, dan peningkatan kapasitas komunikasi telah membentuk fondasi kuat bagi UMKM dan masyarakat Desa Banyuanyar untuk berkembang. Program ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi dapat menjadi motor penggerak kemajuan desa menggabungkan pengetahuan akademik dengan kearifan lokal demi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.











