JATENGKU.COM, SURAKARTA — Kegiatan sosialisasi bertema lingkungan dan tata kelola koperasi dilaksanakan di lingkungan SMKN 2 Surakarta pada hari Sabtu (12/7/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) TIM 153 Universitas Diponegoro yang bertujuan untuk mendorong perkembangan koperasi SMK 2 Surakarta melalui inovasi ramah lingkungan dan budaya kerja berkelanjutan.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa dari berbagai jurusan menyelenggarakan rangkaian sosialisasi bertema “Penguatan Koperasi Sekolah melalui Inovasi Lingkungan dan Budaya Kerja Berkelanjutan.”
Kegiatan ini menyasar kepada pengurus dan anggota koperasi SMKN 2 Surakarta dengan harapan mampu menciptakan lingkungan koperasi yang lebih hijau, sehat, dan tertata.
Sosialisasi ini diikuti oleh siswa dan pengurus koperasi yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Peserta diberikan pemahaman mengenai berbagai aspek penting yang mendukung lingkungan koperasi yang berkelanjutan.

Sosialisasi pertama dimulai oleh Fayza Sarah dari jurusan Agroekoteknologi, mengangkat pentingnya budidaya microgreen sebagai bentuk penerapan urban farming yang mudah diterapkan dimana saja, termasuk di lingkungan kerja seperti koperasi. Melalui kegiatan ini, ia mengajak anggota koperasi untuk mulai menanam sayuran sendiri sebagai upaya sederhana menjaga pola hidup sehat, sekaligus memanfaatkan lahan terbatas secara efektif.
Dalam sosialisasi tersebut, disampaikan bahwa microgreen merupakan sayuran berukuran mini dengan kandungan nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan sayuran dewasa.
Budidaya microgreen sangat cocok diterapkan di perkotaan karena tidak membutuhkan lahan luas, dan umur panennya pun singkat, hanya sekitar 7 hingga 21 hari. Hal ini menjadi solusi praktis bagi masyarakat yang ingin mulai bercocok tanam namun terkendala waktu dan ruang.
Dalam pelaksanaannya, sosialisasi diawali dengan pembagian leaflet yang berisi penjelasan mengenai apa itu microgreen, manfaatnya, serta langkah-langkah budidaya secara sederhana.
Setelah itu, dilakukan pemaparan materi melalui presentasi PowerPoint agar peserta dapat lebih memahami teori dasarnya. Tidak hanya penyampaian materi, kegiatan ini dilanjutkan dengan demonstrasi penanaman microgreen secara langsung.
Peserta diajak untuk mengamati proses penyemaian mulai dari menyiapkan media tanam, menebar benih, hingga perawatan selama masa tumbuh. Demonstrasi ini dilakukan agar peserta dapat memahami tahapan budidaya secara langsung dan nantinya dapat mempraktekkannya sendiri, baik di lingkungan koperasi maupun di rumah masing-masing.
Kemudian dilanjutkan sosialisasi dari Raditya Hanafi, mahasiswa Teknik Industri, memaparkan konsep metode 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) sebagai dasar dalam menciptakan ruang kerja koperasi yang lebih baik dan budaya kerja yang dapat meningkatkan maupun menjaga lingkungan kerja koperasi SMK 2 Surakarta.
Dijelaskan bahwa 5R merupakan metode pemeliharaan serta penataan suatu lingkungan kerja yang berasal dari Negara Jepang. Raditya Hanafi menjelaskan semua aspek dalam 5R seperti Ringkas, Resik, Rawat, Rapi, dan Rajin. Penjelasan aspek 5R meliputi penjelasan definisi, manfaat, kendala, serta cara menerapkan pada suatu lingkungan kerja.
Raditya Hanafi juga memberikan rekomendasi penataan dan perawatan kepada lingkungan koperasi SMK 2 Surakarta menggunakan metode 5R yang didasarkan oleh survei yang telah dilakukan sebelumnya.
Pemaparan materi sosialisasi dilakukan menggunakan presentasi PowerPoint dan poster yang memaparkan definisi setiap aspek 5R serta manfaat dari penerapan metode ini di suatu lingkungan kerja.
Pemaparan ketiga dilanjutkan oleh Leonardo Sindhu, mahasiswa Teknik Geologi Universitas Diponegoro, yang memaparkan pentingnya keberadaan sumur resapan dan lubang biopori sebagai solusi konservasi air tanah dalam kegiatan penyuluhan lingkungan. Dijelaskan bahwa sumur resapan dan biopori berperan penting dalam menampung air hujan agar meresap ke dalam tanah, sehingga membantu meningkatkan cadangan air tanah.
Selain itu, sumur resapan juga dapat mengurangi risiko banjir dan mencegah penurunan muka tanah yang sering terjadi akibat pengambilan air tanah secara berlebihan. Dalam kegiatan ini, Leonardo juga menjelaskan cara perawatan sederhana sumur resapan dan lubang biopori, seperti membersihkan dari sampah secara berkala dan memastikan tidak tersumbat agar air tetap dapat meresap dengan baik.
Selain manfaat teknis tersebut, ditambahkan juga penjelasan mengenai kondisi geologi regional dan hidrogeologi regional di lokasi kegiatan. Dengan pendekatan geologi dan hidrogeologi ini, ia menekankan pentingnya pemahaman karakteristik tanah dan batuan dalam penerapan teknologi konservasi air tanah yang tepat.
Untuk mendukung penyampaian materi, digunakan media sosialisasi berupa presentasi PowerPoint dan poster ilmiah yang berisi informasi visual mengenai fungsi, manfaat, serta langkah-langkah perawatan sumur resapan dan lubang biopori. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk turut menjaga keberlanjutan sumber daya air di lingkungan sekitarnya.
Sementara itu, Dhiya Ufairah Hilmi dari jurusan Oseanografi menyampaikan pentingnya menjaga kualitas air kolam perikanan sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan dan sumber daya air. Sosialisasi ini bertujuan memberikan edukasi langsung mengenai parameter-parameter penting dalam budidaya ikan.
Kualitas air yang baik akan merupakan penentu dalam pertumbuhan, metabolisme, dan daya tahan ikan yang hidup di kolam perikanan. Dalam kesempatan tersebut, diperkenalkan dua jenis parameter kualitas air yaitu parameter fisika dan kimia. Parameter fisika yang diperkenalkan meliputi suhu sedangkan parameter kimia yang diperkenalkan antara lain pH, amonia, dan DO.
Selain itu, diperkenalkan juga monitoring kualitas air secara visual dan bau. Selain melakukan sosialisasi, terdapat juga pembuatan buku panduan terkait monitoring kualitas perairan. Dalam buku panduan tersebut berisi pengenalan parameter-parameter kualitas perairan dan petunjuk pengukuran parameter kualitas perairan.
Meskipun sebagian besar kegiatan disampaikan dalam bentuk presentasi dan diskusi interaktif, suasana tetap berlangsung dinamis dengan banyaknya pertanyaan dan tanggapan dari peserta.
Para peserta yang terlibat aktif turut memberikan pandangan dan pengalaman mereka dalam mengelola koperasi sekolah sehari-hari.
Diharapkan, materi yang disampaikan dalam sosialisasi ini dapat memberikan wawasan baru dan mendorong perubahan positif yang bisa diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan koperasi sekolah.
Dengan begitu, koperasi SMKN 2 Surakarta tidak hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga sebagai wadah edukatif yang mencerminkan semangat cinta lingkungan dan budaya kerja yang tertib serta produktif.










