JATENGKU.COM, KENDAL – Kesenian tradisional Barongan yang menjadi ikon budaya Kabupaten Kendal kini mendapat sentuhan inovasi teknologi dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Diponegoro (UNDIP) dan Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS). Melalui program bertajuk “Pembuatan Kotak Penyimpanan Anti Rayap untuk Kepala Barongan”, Iqbaal Nur Ali, mahasiswa Teknik Mesin UNDIP, berhasil menghadirkan solusi sederhana namun berdampak besar bagi pelaku seni di Kelurahan Karangsari pada 18 Agustus 2025 .

Program ini dilatar belakangi oleh keresahan pelaku seni Barongan New Putro Budoyo terhadap kerusakan kepala barongan yang kerap terjadi akibat serangan rayap dan kelembapan ruang penyimpanan. “Kepala barongan ini bukan sekadar properti, tapi juga simbol warisan budaya. Kalau rusak, bukan hanya rugi materi, tapi juga kehilangan nilai sejarah,” ujar Pak Samsul, salah satu seniman Barongan setempat.

Melihat permasalahan itu, Iqbaal tergerak untuk menciptakan rak penyimpanan anti-rayap berbahan kayu yang telah diproses khusus agar tahan terhadap kelembapan dan serangan serangga. Rak tersebut juga dirancang dengan sistem modular folding sehingga dapat difungsikan ganda sebagai meja atau tempat duduk. “Saya ingin alat ini bukan hanya fungsional, tapi juga efisien dan punya nilai estetika,” jelas Iqbaal.

Selama pelaksanaan program, Iqbaal melakukan survei, diskusi, dan uji coba langsung di sanggar New Putro Budoyo. Proses pembuatan rak dilakukan dengan memperhatikan teori desain modular yang menekankan fleksibilitas dan efisiensi ruang. Hasilnya, rak anti-rayap ini berhasil menghemat ruang penyimpanan sekaligus mengurangi biaya perawatan kepala barongan hingga 40 persen.

Program ini mendapat sambutan positif dari para pelaku seni di Karangsari. “Sekarang kami bisa menyimpan kepala barongan dengan lebih aman dan rapi. Bahkan bisa dipakai duduk pas latihan,” kata Sutrisno, anggota kesenian New Putro Budoyo sambil tersenyum bangga.

Iqbaal juga menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar proyek teknis, tetapi juga bentuk pelestarian budaya. “Sebagai mahasiswa teknik, saya ingin teknologi bisa hadir untuk melestarikan budaya, bukan menggantikannya,” ujarnya.

Kegiatan KKN-T ini dilaksanakan dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia, melalui LPPM Universitas Diponegoro dan Universitas Wahid Hasyim. Program ini juga dibimbing oleh tim dosen pelaksana dan didampingi oleh pembimbing lapangan dalam rangka mewujudkan pengabdian masyarakat berbasis kearifan lokal.

Melalui inovasi sederhana namun berdampak nyata ini, mahasiswa KKN-T UNDIP & UNWAHAS menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan kemajuan teknologi. Kotak penyimpanan anti-rayap untuk kepala barongan menjadi simbol kolaborasi antara ilmu teknik dan warisan budaya, serta bukti bahwa semangat muda dapat menjaga akar tradisi bangsa.

Penulis: Iqbaal Nur Ali, Mahasiswa Teknik Mesin, KKN-T KEMDIKTISAINTEK Kelurahan Karangsari 2025

Editor: Handayat