JATENGKU.COM, BATANG – Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang menjadi lokasi program kerja Tim 3 KKN-T IDBU 65 Universitas Diponegoro yang fokus pada pemberdayaan UMKM. Tim ini terdiri dari enam mahasiswa lintas program studi—yakni Aziz, Flory, Hanif, Rania, Reno, dan Zalfa—yang menyelenggarakan sosialisasi pencatatan keuangan, administrasi perpajakan, dan penggunaan QRIS. Kegiatan dua hari pada Sabtu–Minggu (26–27 Juli 2025) tersebut digelar di balai desa setempat dan dihadiri puluhan pelaku UMKM setempat.

Pelaksanaan Pelatihan UMKM

Suasana pelatihan pencatatan keuangan dan pengenalan QRIS yang digelar Tim 3 KKN-T IDBU 65 Universitas Diponegoro bersama para pelaku UMKM di Balai Desa Pranten, Batang. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi digital guna mendorong kemandirian ekonomi desa. (Foto: Dok. KKN-T UNDIP)

Dalam pelatihan tersebut, anggota Tim 3 KKN-T IDBU 65 Universitas Diponegoro memberikan materi manajemen keuangan sederhana dan kewajiban pajak bagi usaha mikro. Mereka menjelaskan langkah-langkah pencatatan transaksi usaha dan pelaporan pajak yang mudah dipahami oleh pemilik usaha.

Tim 3 juga memperkenalkan QRIS sebagai alat pembayaran digital yang praktis, karena penggunaan QRIS dapat meningkatkan efisiensi transaksi dan memudahkan pencatatan keuangan UMKM.

Materi ini sejalan dengan hasil survei yang menunjukkan pelatihan pembukuan ini dapat membantu pelaku UMKM memahami pentingnya pencatatan dan pelaporan keuangan yang baik.

Pemanfaatan Teknologi dan QRIS

Infrastruktur digital di Desa Pranten semakin mendukung pertumbuhan dan kemandirian usaha lokal, terutama dalam era digitalisasi ekonomi. Akses internet yang mulai merata serta peningkatan literasi digital di kalangan pelaku UMKM membuka peluang besar untuk mengembangkan bisnis secara lebih modern.

Salah satu bentuk pemanfaatan teknologi adalah penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) sebagai metode pembayaran yang praktis dan efisien. Dengan QRIS, setiap transaksi tercatat secara otomatis, memudahkan pelaku usaha dalam melakukan pencatatan keuangan dan pelaporan pajak.

Selain itu, QRIS juga memungkinkan UMKM menjangkau pelanggan dari luar desa, bahkan dari luar kota, sehingga dapat memperluas pasar dan meningkatkan daya saing produk lokal. Adopsi teknologi ini menjadi langkah awal yang strategis bagi UMKM di Desa Pranten untuk naik kelas dan beradaptasi dengan tuntutan pasar yang semakin digital.

Dukungan Desa dan Harapan Mahasiswa

Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Pranten menyambut baik kegiatan ini. Pak Edi, anggota BPD Desa Pranten, mengapresiasi kontribusi mahasiswa: “Terima kasih kepada Tim 3 KKN-T IDBU 65 Universitas Diponegoro Desa Pranten 2025, karena sudah memberikan wawasan baru terhadap UMKM sebagai langkah utama untuk revitalisasi Rest Area Tol Khayangan. Sinergitas antara perangkat desa dan mahasiswa diharapkan mampu mendorong berkembangnya Tol Khayangan sebagai salah satu potensi destinasi wisata di wilayah Dieng dan sekitarnya,” ujarnya.

Sementara itu, Rania, salah satu anggotaTim 3 KKN-T IDBU 65 Universitas Diponegoro, berharap program ini mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. “Melalui program ini, UMKM diharapkan mampu memperluas segmentasi pasar dan mencapai kemandirian finansial sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan,” kata Rania.

Dengan pendekatan tersebut,Tim 3 KKN-T IDBU 65 Universitas Diponegoro berharap UMKM di Desa Pranten semakin mandiri dan mampu memperbesar pangsa pasar mereka. Sinergi antara mahasiswa dan perangkat desa diharapkan membawa manfaat jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi lokal, terutama dalam mengembangkan kawasan Tol Khayangan dan sektor pariwisata Dieng.

Editor: Handayat