JATENGKU.COM, Sragen — Kawasan Wisata Boyolayar memiliki potensi yang cukup besar dengan tingginya aktivitas pengelola, dan wisatawan yang berkunjung. Namun, berdasarkan hasil pengamatan awal mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), penerapan tata kelola lingkungan di kawasan wisata tersebut masih belum berjalan secara optimal.
Permasalahan yang ditemukan antara lain belum terbiasanya pengelola kawasan dalam menerapkan pengelolaan lingkungan wisata secara teratur dan berkelanjutan. Selain itu, hingga saat ini pengelola belum memiliki panduan kebiasaan yang sistematis sebagai acuan dalam menjaga kebersihan dan ketertiban kawasan wisata.
Sebagai upaya untuk menanggapi permasalahan tersebut, mahasiswa KKN mengusulkan program penerapan nilai budaya 5S Jepang dalam pengelolaan Kawasan Wisata Boyolayar. Budaya 5S yang meliputi Seiri (ringkas), Seiton (rapi), Seiso (resik), Seiketsu (rawat), dan Shitsuke (disiplin) dinilai relevan untuk diterapkan dalam pengelolaan lingkungan wisata guna membentuk kebiasaan bersih dan tertib secara berkelanjutan. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk upaya untuk meningkatkan kesadaran pengelola dan pengunjung terhadap pentingnya kebersihan, kerapian, dan ketertiban lingkungan wisata.

Program ini direncanakan melalui beberapa tahapan metode, diawali dengan survei awal untuk mengamati kondisi kawasan wisata serta mengidentifikasi titik-titik yang memerlukan penataan. Selanjutnya, mahasiswa KKN akan menyusun buku panduan penerapan budaya 5S serta membuat media pendukung berupa papan poster penataan. Media tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat visual bagi pengelola dan pengunjung untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan ketertiban kawasan wisata.
Kelompok sasaran dari program ini meliputi pengelola Kawasan Wisata Boyolayar, pemuda desa yang terlibat dalam pengelolaan wisata, serta wisatawan yang berkunjung. Diharapkan seluruh pihak dapat berperan aktif dalam mendukung penerapan budaya 5S di kawasan wisata. Luaran yang dihasilkan dari program ini berupa buku panduan penerapan budaya 5S serta papan poster 5S yang ditempatkan di area wisata Boyolayar. Melalui program ini, diharapkan pengelolaan kawasan wisata Boyolayar dapat menjadi lebih tertib, bersih, dan nyaman bagi pengelola maupun pengunjung.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro berharap penerapan nilai budaya 5S Jepang dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan pengelolaan Kawasan Wisata Boyolayar yang lebih terarah, bersih, dan berkelanjutan, serta memberikan dampak positif bagi perkembangan wisata desa ke depannya.
Penulis:Soli Khatun
DPL: Putri Rizka Citaningati, S.E., M.SEI.
Lokasi KKN: Desa Ngargosari, Kecamatan Sumberlawang, Sragen
KKN Reguler TIM 110 Universitas Diponegoro Tahun 2026







