JATENGKU.COM, SEMARANG – Panti Pelayanan Sosial (PPS) PGOT Mardi Utomo Semarang merupakan tempat yang memberikan perlindungan sementara bagi kelompok rentan seperti pengemis, gelandangan, dan orang terlantar. Di panti ini, mereka tidak hanya mendapat tempat tinggal yang lebih layak, tetapi juga diarahkan untuk membangun kembali kemandirian melalui berbagai bentuk pembinaan. Sebagai upaya baru, PPS PGOT Mardi Utomo bersama mahasiswa KKN-T Tim 141 Undip 2025, khususnya Domain 2, menggagas sebuah kegiatan rutin bernama Pasar Srawung Minggu Kliwon.

Pasar ini akan diadakan setiap 35 hari sekali, bertepatan dengan Minggu Kliwon dalam penanggalan Jawa, sehingga mudah diingat masyarakat. Tujuannya bukan sekadar sebagai ajang transaksi jual beli, melainkan wadah pemberdayaan bagi para penerima manfaat sekaligus jembatan interaksi dengan masyarakat luas. Melalui kegiatan ini, penerima manfaat didorong untuk tampil sebagai bagian aktif dari masyarakat dengan menunjukkan karya dan usaha mereka.

Pada peluncuran perdananya, Minggu 27 Juli 2025 lalu, Pasar Srawung diikuti oleh 17 stan. Sebanyak 11 stan diisi oleh pelaku UMKM sekitar panti, sementara sisanya diisi oleh penerima manfaat dengan produk hasil keterampilan yang dipelajari selama pembinaan di panti. Mulai dari makanan olahan, hasil kebun, hingga kerajinan tangan, semua dipersiapkan dengan semangat untuk melatih kemandirian dan menumbuhkan rasa percaya diri.

Suasana Pasar Srawung Minggu Kliwon yang diadakan oleh mahasiswa KKN Undip dan PPS PGOT Mardi Utomo Semarang. Kegiatan ini menampilkan berbagai produk olahan dari penghuni panti dan pelaku UMKM lokal, bertujuan untuk mendorong kemandirian dan interaksi sosial.

Kepala Panti, Elliya Chariroh, menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki beberapa tujuan strategis. “Pertama, untuk pengembangan keterampilan internal. Penerima manfaat kami memiliki keahlian di bidang tata boga, menjahit, perkebunan, perikanan hingga komposting. Melalui pasar ini, mereka belajar cara berdagang, mengelola modal dan keuntungan,” jelasnya.

Menariknya, yang berjualan di pasar ini tidak hanya berasal dari pihak penerima manfaat. Warga sekitar pun diberi kesempatan membuka lapak dan ikut meramaikan acara. Kehadiran masyarakat menjadikan suasana pasar semakin hidup dan berwarna, dengan produk yang lebih variatif dan interaksi yang lebih erat antara penghuni panti dan warga sekitar. Hal ini memperlihatkan bahwa pasar bukan sekadar milik panti, melainkan milik bersama yang memupuk kebersamaan.

Sebagai pembantu persiapan dan peluncuran, Tim KKN-T Undip Domain 2 berperan dalam memfasilitasi logistik dan mendukung awal terlaksananya kegiatan. Meski begitu, pengelolaan penuh tetap berada di bawah PPS PGOT Mardi Utomo agar program ini berkelanjutan meskipun masa KKN sudah berakhir.

Melalui Pasar Srawung Minggu Kliwon, diharapkan tumbuh kesadaran bahwa kegiatan sosial bisa dilakukan dengan cara sederhana namun bermakna. Masyarakat yang hadir tidak hanya berbelanja, tetapi juga turut serta dalam sebuah gerakan mendukung pemberdayaan dan solidaritas. Dukungan yang diberikan melalui pembelian produk maupun sekadar hadir memberi dampak nyata bagi penerima manfaat dalam melangkah menuju kemandirian.

Penulis: Izzatul Mardhiyah

Editor: Handayat