JATENGKU.COM, TUNTANG Mahasiswa Universitas Diponegoro melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui Program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) yang difokuskan pada pengembangan potensi desa. Program ini menjadi bagian dari skema Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2025 dengan tema besar “Model Penguatan Ekonomi Berbasis Community Empowerment : Integrasi Kelompok Ternak dan Pengrajin Desa Kesongo Menuju Desa Kreatif dan Mandiri Melalui Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa.”

Di Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, mahasiswa dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) melaksanakan KKN monodisiplin dengan fokus pada pengembangan ekonomi lokal berbasis potensi desa. Dua program kerja utama diusung dan saling berkaitan, yaitu pemetaan potensi UMKM dan redesain Waroeng Sunset, sebuah titik aktivitas ekonomi dan rekreasi yang menjadi ikon desa.

Program pertama, pemetaan potensi UMKM, dilakukan dengan menelusuri seluruh wilayah Desa Kesongo untuk mengidentifikasi pelaku usaha lokal. Dari kegiatan tersebut, mahasiswa berhasil mencatat 24 pelaku UMKM yang bergerak dalam tiga klaster utama, yakni kerajinan bambu, kuliner, dan kelompok peternakan. Pemetaan ini menjadi dasar penting bagi pemerintah desa dalam menentukan arah perencanaan ekonomi serta strategi pengembangan produk unggulan desa.

Tak berhenti di situ, mahasiswa juga menggagas redesain Waroeng Sunset, unit usaha BUMDes yang selama ini dikenal sebagai spot menikmati senja di tepi Rawa Pening. Melalui pendekatan partisipatif, lahirlah rancangan baru berupa pendopo multifungsi, mini garden edukasi, hingga amfiteater kecil yang sekaligus bisa menjadi panggung budaya. Waroeng Sunset bukan hanya tempat nongkrong, tetapi juga menjadi etalase produk UMKM lokal dan ruang interaksi masyarakat dengan wisatawan.

Penguatan Ekonomi Desa Kesongo, Mahasiswa KKN Tematik Kemendikbudristek Hadirkan Peta UMKM dan Wajah Baru Waroeng Sunset

Menurut mahasiswa pelaksana, kedua program ini dirancang agar saling menguatkan. “Pemetaan UMKM menyediakan basis data produk lokal, sedangkan redesain Waroeng Sunset menghadirkan ruang pemasaran sekaligus atraksi wisata. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat langsung dalam kegiatan ekonomi dan pariwisata,” jelas salah satu mahasiswa.

Kepala Desa Kesongo menyambut positif program ini. Ia berharap hasil KKN dapat terus dikembangkan melalui dukungan pemerintah desa, BUMDes, dan pendampingan lanjutan dari perguruan tinggi. “Desa Kesongo memiliki potensi besar. Dengan adanya pemetaan dan fasilitas baru di Waroeng Sunset, kami optimis akan ada peningkatan kunjungan wisata dan pendapatan masyarakat,” ujarnya.

Inisiatif mahasiswa ini sejalan dengan konsep pembangunan berbasis masyarakat (community-based development), di mana warga desa menjadi subjek utama pembangunan, bukan hanya objek. Sinergi antara pemetaan UMKM dan redesain Waroeng Sunset menunjukkan bahwa perencanaan berbasis data, jika diiringi inovasi desain partisipatif, mampu menghadirkan strategi penguatan ekonomi yang berkelanjutan.

Melalui sinergi antara pemetaan UMKM dan redesain Waroeng Sunset, mahasiswa PWK berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan desa. Inisiatif ini juga sejalan dengan semangat pembangunan berbasis masyarakat (community-based development), di mana warga menjadi subjek utama dalam mengelola potensi desanya.

Sebagai penutup, tim pelaksana menyampaikan ucapan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, yang telah mendanai program ini sesuai kontrak pelaksanaan kegiatan :

  • Nomor: 062/C3/DT.05.00/PM/2025 (kontrak induk)
  • Nomor: 360-11/UN7.D2.1/PM/V/2025 (kontrak turunan)

Program ini dilaksanakan oleh tim dosen pelaksana Dr. Hari Susanta Nugraha, S.Sos., M.Si. dari Universitas Diponegoro dan Dr. Bayu Kurniawan, S. Kom., M.M. dari Universitas PGRI Semarang.

Editor: Handayat