JATENGKU.COM, Surabaya — Surabaya, sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia, terus dihantui oleh bayangan kemacetan kronis. Bukan sekadar gangguan harian, masalah ini telah menjadi penggerus waktu produktif yang sangat masif. Data dari TomTom Traffic Index menunjukkan bahwa penduduk Surabaya setidaknya kehilangan waktu selama 76 jam per tahun hanya karena terjebak macet. Angka ini adalah alarm nyata yang menuntut solusi berbasis urgensi dan efisiensi.
Namun, di tengah tuntutan perbaikan infrastruktur yang mendesak bagi komuter harian, Pemerintah Kota Surabaya justru menyiapkan rencana pengembangan transportasi Taksi Air di Sungai Kalimas, yang tahap awalnya difokuskan pada kegiatan kepariwisataan. Inilah titik krusial dari prioritas kebijakan yang keliru.
Kontradiksi Antara Masalah dan Solusi
Artikel opini yang efektif harus menekankan gagasan personal yang khas, didukung oleh fakta. Pandangan saya jelas: Pengembangan Taksi Air yang berorientasi pariwisata bukanlah jawaban yang tepat terhadap masalah utama masyarakat, yakni kehilangan waktu dan efisiensi mobilitas harian.
Masalah utama Surabaya adalah volume kendaraan darat yang sangat besar, yakni menyumbang 10,91% dari total kendaraan di Jawa Timur. Warga kota ini membutuhkan sistem transportasi yang handal, cepat, dan terintegrasi untuk beralih dari kendaraan pribadi. Solusi kosmetik yang dimulai dari jalur wisata air hanya akan mengalihkan sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk memulihkan 76 jam waktu hilang tersebut.
Argumentasi saya terbagi menjadi dua pilar:
Pilar Argumen I: Disinsentif Kebijakan
Fokus pada Taksi Air menciptakan disinsentif bagi perbaikan sektor yang paling kritis: transportasi darat. Alokasi anggaran dan perhatian seharusnya ditujukan untuk memperkuat Suroboyo Bus, Trans Semanggi Suroboyo, dan Feeder (Wira-Wiri Suroboyo). Jika transportasi umum darat ini dianggap belum efektif, fokusnya haruslah pada identifikasi akar masalah (seperti rute, integrasi, dan waktu tunggu) dan investasi besar-besaran untuk akselerasi dan kenyamanan.
Pilar Argumen II: Pola Perbandingan Efektivitas
Menggunakan pola penyajian perbandingan, efektivitas biaya dan dampak investasi pada Taksi Air versus perbaikan sistem darat akan sangat timpang. Membandingkan dampak yang dihasilkan, solusi pariwisata air hanya menyentuh segmen kecil pengguna, sementara peningkatan efisiensi bus darat secara langsung berpotensi meringankan beban jutaan komuter harian. Kota metropolitan membutuhkan solusi yang dapat memindahkan massa secara cepat dan terjangkau, bukan sekadar menyediakan alternatif rekreasi.
Panggilan Aksi untuk Pemulihan Waktu
Sebuah Op-Ed yang kuat harus diakhiri dengan panggilan aksi spesifik. Pemerintah Kota Surabaya harus segera mereorientasi prioritas kebijakan transportasinya. Waktu 76 jam yang hilang setiap tahun adalah kerugian ekonomi mikro yang besar bagi setiap keluarga di Surabaya.
Waktu adalah aset yang tidak dapat dipulihkan. Solusi transportasi publik harus didasarkan pada logika yang kuat dan fokus pada urgensi publik. Daripada menghabiskan waktu dan anggaran untuk Taksi Air yang masih berupa rencana kepariwisataan, Pemkot harus segera berinvestasi pada integrasi sistem darat yang sudah ada. Inilah satu-satunya jalan logis untuk benar-benar memulihkan waktu produktif warga Surabaya dan menjamin kredibilitas kebijakan publik.
Penulis: Arif Rahmatullah






