JATENGKU.COM, Surabaya — Keahlian terbesar seorang dokter tidak hanya terletak pada kemampuan membaca scan MRI atau meresepkan obat, namun juga pada komunikasi. Di ruang konsultasi, komunikasi yang kita bangun dengan pasien bertujuan untuk pertukaran informasi, dan memberikan intervensi medis. Komunikasi efektif dapat meningkatkan kepuasan pasien serta kepatuhan terhadap perawatan. Selain itu juga dapat membangun kepercayaan pasien untuk meningkatkan ketepatan data, mengurangi kesalahan medis, dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan (Astuti dkk., 2025).
Studi lain juga membuktikan bahwa komunikasi efektif yang terapeutik saat menulis riwayat medis serta merencanakan penanganan berkaitan dengan peningkatan kondisi fisik, fungsi tubuh, serta menurunnya tekanan darah dan kadar glukosa (Stewart, M.A., 1995). Tidak hanya meningkatkan kesehatan pasien, komunikasi antara dokter dan pasien yang memadai juga dapat mencegah tuntutan malpraktik (Levinson, W., 1999). Hal ini membuktikan bahwa komunikasi tidak hanya mendukung perawatan bagi pasien, namun juga menjadi pelindung bagi tenaga kesehatan yang ada.
Seorang dokter harus dapat menjelaskan alasan di balik sebuah pengobatan, mendiskusikan berbagai pilihan yang ada, dan melibatkan pasien dalam setiap keputusan. Salah satu contoh dapat dilihat dari dokter Patologi Anatomi (PA) yang mampu mengkomunikasikan hasil pemeriksaan kepada pasien untuk menentukan perawatan selanjutnya yang dibutuhkan pasien. Seorang dokter PA tidak hanya memberikan hasil “Anda menderita kanker stadium II.” tanpa penjelasan apapun, informasi tersebut hanya akan menimbulkan rasa takut dan kebingungan.
Dengan komunikasi efektif, seorang dokter PA perlu menjelaskan arti stadium tersebut, karakteristik sel yang ditemukan. Selain itu, memberi penjelasan bagaimana informasi ini menjadi kunci bagi dokter lain untuk menyusun rencana terapi yang tepat. Penjelasan yang baik akan mengurangi rasa takut akan hal yang pasien tidak pahami, serta memberikan rasa kendali atas kondisi yang mereka hadapi.
Namun, komunikasi yang baik tidak terjadi begitu saja. Ia membutuhkan keterampilan khusus yang dapat dipelajari dan dilatih. Salah satu teknik dasarnya adalah mendengarkan secara aktif dan penuh perhatian (attending behavior). Hal ini memiliki makna bahwa dokter sepenuhnya fokus pada pasien, dengan kontak mata, bahasa tubuh yang terbuka, dan tidak terburu-buru menyela. Ketika pasien merasa benar-benar didengar, mereka akan lebih terbuka untuk mengungkapkan informasi penting.
Selanjutnya, keterampilan bertanya dengan pertanyaan terbuka (open question) dan memberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dicerna sangat penting. Dibandingkan bertanya, “Sudah minum obat?”, pertanyaan seperti, “Bagaimana pengalaman Bapak/Ibu selama minum obat ini?” dapat memudahkan dokter untuk mengetahui efek samping atau kesulitan yang dihadapi oleh pasien saat itu. Komunikasi ini tidak hanya berlaku untuk dokter PA atau dokter penyakit dalam, tetapi untuk seluruh tenaga kesehatan. Ibarat kata, seorang dokter bedah harus mampu menjelaskan risiko dan manfaat operasi dengan transparan dan seorang dokter anak yang dapat berkomunikasi dengan lembut kepada anak dan orang tua.
Oleh karena itu, melakukan komunikasi terapeutik yang efektif bersama pasien merupakan hal yang krusial. Komunikasi yang jelas sejak awal dapat mencegah kesalahpahaman, meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan, dan membangun kepercayaan pasien. Pada akhirnya, dengan komunikasi, seorang dokter juga menghemat waktu dan sumber daya dengan mengurangi kunjungan berulang akibat terapi yang tidak dipahami atau tidak dijalankan dengan baik.
Dengan demikian, komunikasi yang efektif bukan sekadar pelengkap dari seorang dokter. Namun juga merupakan kunci dari kesehatan pasien. Dunia kedokteran saat ini sudah modern, di mana teknologi dan informasi berkembang pesat. Menjalin komunikasi melalui kata-kata yang empatik menjadi penentu keberhasilan suatu proses penyembuhan. Karena pada dasarnya, pasien datang bukan hanya untuk menyembuhkan penyakitnya, tetapi juga untuk didengarkan, dimengerti, dan diyakinkan bahwa mereka tidak berjalan sendiri.
Penulis: Wynlee Yudana











