JATENGKU.COM, Surabaya — Bicara soal K3, banyak orang langsung membayangkan helm kuning, sepatu boots, atau rompi hijau. Padahal, keselamatan kerja di proyek konstruksi jauh lebih kompleks daripada sekadar memakai alat pelindung diri. Faktor terpenting justru datang dari satu hal yang sering dilupakan yaitu pengawasan manusia yang hadir secara konsisten di lapangan.
Hal itu terlihat jelas pada proyek pembangunan Gedung Dormitory Universitas Airlangga (Unair) Kampus C. Meski berada di sektor konstruksi yang terkenal penuh risiko, proyek ini berhasil mencatatkan Zero Accident hingga minggu ke-38. Tidak ada satu pun pekerja mengalami cedera. Pencapaian ini bukan kebetulan, melainkan hasil kerja serius tim HSE yang mengawasi kegiatan setiap hari.
Konstruksi, Lingkungan Berisiko yang Membutuhkan Pengawasan Nyata
Pekerjaan konstruksi mengandung banyak bahaya seperti bekerja di ketinggian, pengoperasian alat berat, material yang bergerak di berbagai titik, hingga banyaknya subkontraktor yang bekerja bersamaan. Dalam kondisi seperti ini, kesalahan sekecil apa pun bisa berujung fatal. Karena itu, kehadiran HSE tidak bisa dianggap formalitas. Mereka tidak hanya memegang checklist, tetapi benar-benar menjadi “mata dan telinga” di lapangan.
Mereka memastikan APD digunakan dengan benar, memeriksa alur kerja agar tidak saling membahayakan, serta menegur tindakan tidak aman sebelum berkembang menjadi insiden. Secara teori, lebih dari 80% kecelakaan berasal dari perilaku manusia. Artinya, keberhasilan K3 di lapangan sangat ditentukan oleh pengawasan langsung, bukan sekadar aturan yang tertempel di dinding.

421.185 Jam Kerja Tanpa Insiden
Papan informasi HSE di proyek menunjukkan data yang jarang ditemui di sektor konstruksi:
- Jam Kerja Orang (JKO): 421.185
- Loss Time Injury: 0 kasus
- Medical Treatment Case: 0 kasus
- First Aid Case: 0 kasus
Semua kategori menunjukkan angka nol. Ini membuktikan bahwa pengawasan disiplin, komunikasi yang jelas, dan intervensi cepat memiliki dampak nyata terhadap keselamatan pekerja.

Budaya Apresiasi yang Sederhana tetapi Efektif
Salah satu hal menarik dari proyek Asrama Unair adalah adanya penghargaan bagi pekerja yang mematuhi prosedur keselamatan. Nama-nama seperti CECEP, SANTO, dan ADI terpampang di papan HSE sebagai bentuk apresiasi. Langkah sederhana ini memiliki efek besar.
Pekerja jadi merasa dihargai sehingga kepatuhan meningkat, dan budaya keselamatan tumbuh dari kesadaran, bukan paksaan. Pendekatan humanis seperti ini sering terlupakan, padahal sangat efektif menjaga perilaku aman tetap konsisten.
Faktor Penentu Zero Accident di Lapangan
Teknologi, otomatisasi atau kecerdasan buatan, dan perubahan iklim memang membuat risiko kerja semakin beragam. Namun proyek ini mengingatkan bahwa inti keselamatan tetap berada pada pengawasan manusia. Teknologi hanya membantu, sementara keputusan cepat dan tindakan langsung tetap bergantung pada orang di lapangan.
Zero Accident bukan keberuntungan. Zero Accident adalah hasil dari pengawasan aktif, koordinasi yang jelas, dan budaya keselamatan yang hidup. Model pengawasan seperti ini layak dijadikan acuan bagi proyek konstruksi lainnya. Pada akhirnya, keselamatan bukan hanya target angka, tetapi komitmen moral untuk memastikan setiap pekerja pulang dalam keadaan selamat.

Penulis: Tsaabitah Jahraa’ ‘Aaqilah, Mahasiswa Universitas Airlangga Fakultas Vokasi Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja











