JATENGKU.COM, BATANG — Melimpahnya daun dan bunga di Dusun Rembul mendorong salah satu mahasiswa Universitas Diponegoro bernama Tifani Amelia Putri dari program studi Biologi menginisiasi program pelatihan ecoprint bagi warga dusun. Program ini lahir dari keinginan untuk memanfaatkan kekayaan alam dusun yang selama ini belum diolah secara optimal, sekaligus memberikan keterampilan baru yang berpotensi meningkatkan ekonomi masyarakat melalui pembukaan usaha UMKM.
Ecoprint adalah teknik menghias kain dengan memanfaatkan pigmen alami dari daun, bunga, dan batang tanaman sehingga menghasilkan motif unik yang ramah lingkungan.
Selama ini, warga Dusun Rembul banyak mengandalkan usaha tani dan hasil kebun, namun belum banyak yang mengetahui bahwa dedaunan di sekitar rumah bisa menjadi bahan baku kerajinan bernilai jual tinggi.
“Kami ingin memperkenalkan ecoprint sebagai keterampilan baru yang tidak hanya melestarikan alam, tetapi juga bisa menjadi peluang usaha bagi ibu-ibu di desa,” ungkap Tifani, salah satu mahasiswa anggota KKN-T IDBU Tim 50 Universitas Diponegoro 2025.

Program ini diawali dengan survei ke kebun, ladang, dan pekarangan rumah warga untuk mengidentifikasi tanaman yang berpotensi digunakan sebagai bahan ecoprint, seperti daun singkong, daun jarak, daun paku-pakuan, dan bunga-bunga liar. Setelah itu, dilakukan koordinasi dengan perangkat dusun, seperti para ketua RT dan RW untuk memaparkan manfaat ecoprint. Usulan program ini mendapat sambutan positif dan disetujui untuk dilaksanakan.
Pada 13 Juli 2025 pukul 13.30 WIB, dilakukan pemaparan materi mengenai ecoprint di Madrasah Ibtidaiyah Dusun Rembul, Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Dalam sesi ini, dijelaskan latar belakang ecoprint, manfaatnya bagi lingkungan, potensi ekonominya, serta strategi pemasaran produk ecoprint seperti tas, pouch, baju, hingga taplak meja. Para peserta juga menerima seperangkat paket ecoprint yang berisi tas kanvas, palu kayu, daun-daunan, beserta brosur yang berisi panduan pembuatan ecoprint mulai dari tahap scoring hingga fiksasi.

Setelah pemaparan materi mengenai ecoprint, kemudian diadakan pelatihan ecoprint dengan melibatkan ibu-ibu pengajian dan anak-anak. Pelatihan dimulai dengan pengenalan alat dan bahan seperti kain, daun-daun pilihan, palu kayu, dan tawas. Para peserta diajarkan langkah-langkah pembuatan ecoprint mulai dari menata daun di atas kain, memukul perlahan agar motif menempel, hingga mengeringkannya. Antusiasme warga terlihat jelas, bahkan ada yang langsung berkreasi dengan memadukan berbagai bentuk daun untuk menghasilkan motif unik.
Hasil karya ecoprint para warga dipamerkan di akhir kegiatan. Beberapa peserta bahkan menyatakan minat untuk menjadikan ecoprint sebagai usaha sampingan dan sarana edukasi bagi anak-anak MI di Dusun Rembul. “Ternyata daun di halaman rumah kita bisa jadi kain cantik begini. Ke depannya saya mau coba pakai dan,” ujar salah satu ibu peserta.
Harapannya, melalui program ini warga Dusun Rembul dapat mengembangkan produk ecoprint menjadi identitas dan peluang usaha baru yang dapat berpotensi menjadi UMKM. Selain meningkatkan pendapatan, ecoprint juga mengajarkan masyarakat untuk lebih mencintai alam dengan memanfaatkan sumber daya yang ada secara bijak.
Penulis: Tifani Amelia Putri, Program Studi Biologi, Universitas Diponegoro











