JATENGKU.COM, Surabaya — Pemerintah saat ini telah menyadari betapa pentingnya peran gizi dalam pendidikan. Melalui program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menjadikan langkah tepat bagi dunia pendidikan dan kesehatan anak. Pemerintah hadir dengan niat mulia untuk memastikan setiap anak mendapat asupan gizi yang cukup agar dapat belajar secara optimal. Namun, belakangan ini banyak muncul kasus keracunan massal di sejumlah sekolah akibat program yang sedang dijalankan oleh pemerintah.

Apa yang seharusnya menjadi solusi, justru berubah menjadi masalah. Sekitar 1.376 siwa dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, dan diare di berbagai daerah. Beberapa bahkan dilarikan ke rumah sakit. Lalu, di daerah Sumatera Selatan menemukan adanya kontaminasi bakteri Salmonella, E.Coli, Bacilius Cereus, Stapylococcus Aereus, Bacillus Subtilis, hingga jamur Candida tropicalis. Hal ini jelas menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat.

Masalah utamanya terletak pada kualitas bahan, pengawasan, dan distribusi makanan. Di beberapa daerah, banyak kasus makanan dipasok oleh pihak ketiga tanpa proses kontrol mutu yang ketat. Tidak sedikit yang memilih vendor dengan harga termurah alih-alih memilih dengan kualitas yang terbaik. Akibatnya, bahan baku, cara pengolahan makanan, dan standar kebersihan seringkali diabaikan.

Lebih menyedihkan lagi, beberapa kasus menunjukkan bahwa makanan tidak dikemas dengan layak, dibiarkan terlalu lama di suhu ruang, dan bahkan tidak higienis. Padahal, anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan. Sistem imun mereka belum sekuat orang dewasa, sehingga jika terpapar zat atau bakteri yang berbahaya sedikit saja dapat berdampak besar dalam kesehatannya. Alih-alih menjadi sehat dan fokus, mereka justru absen karena sakit dan ketinggalan pelajaran.

Tentu kita tidak bisa menutup mata terkait tujuan baik di balik program ini. Gizi anak adalah hal dasar yang harus diperjuangkan. Namun, niat yang baik belum cukup jika tidak diikuti dengan pelaksanaan yang baik dan bertanggungjawab juga. Tentunya kita juga membutuhkan transparansi publik dan partisipasi masyarakat dalam pengawasan program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Program ini tidak sekedar memberi makan, tetapi juga untuk menjamin bahwa makanan itu layak, aman, dan sehat.

Sudah saatnya kita belajar bahwa program sebaik apapun akan sia-sia jika pelaksanaannya ceroboh. Program Makanan Bergizi Gratis harus diperbaiki secara menyeluruh, buka malah dibatalkan. Bagaimanapun, anak-anak tidak butuh janji, mereka hanya butuh bukti bahwa negara benar-benar hadir untuk mereka dengan cara yang aman dan bertanggung jawab.

Penulis: Syakirah Nasywa Adriana Rifdah, Mahasiswi Universitas Airlangga

Editor: Handayat