JATENGKU.COM, BATANG — Universitas Diponegoro (Undip) Semarang secara konsisten dalam komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang secara rutin diadakan setiap tahun. Program ini merupakan salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang menekankan pentingnya peran aktif mahasiswa dalam kemajuan komunitas masyarakat.

Mahasiswa Undip Semarang program studi Teknik Geologi Gabriel Raimundo DSG melakukan menyelidikan dan menyampaikan, analisis Kualitas Air tanah (KAT) yang dilakukan di Desa Tumbrep pada Jumat (25/7/2025) bertujuan memberikan gambaran kepada pemerintah desa dan masyarakat terkait kualitas air tanah yang ada di Desa Tumbrep berdasarkan parameter analisis pH derajat keasaman.

“Analisis yang telah dilakukan dapat digunakan untuk mengevaluasi gambaran kualitas air tanah, sebagai bahan penyusunan strategi dalam pengelolaan air tanah, mengidentifikasi faktor penyebab pencemaran air tanah sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan tindakan pencegahan dan penanggulangan yang tepat,” Ujarnya dalam pemaparan Bersama Kepala Desa di Balai Desa Tumbrep.

Nilai pH mencerminkan tingkat keasaman air yang dipengaruhi oleh konsentrasi ion hidrogen. Hasil analisis karakteristik kimia tersebut dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai kualitas air yang digunakan untuk memenuhi keperluan harian dan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam menentukan kelayakan air untuk keperluan irigasi pertanian maupun kebutuhan domestik rumah tangga.

Pelaksanaan Analisis Kualitas Air Tanah ini dilakukan melalui beberapa fase, dimulai dari survei observasi lokasi titik sumur, pengumpulan data dan pengambilan 30 sampel air dari sumur gali yang tersebar di Desa Tumbrep, tahap analisis sampel menggunakan peralatan yang telah dikalibrasi oleh mahasiswa untuk memastikan tingkat akurasi, kemudian dilanjutkan dengan analisis data serta penyusunan laporan dan pembuatan poster yang menampilkan hasil analisis.

“Hasil analisis kualitas air tanah di Desa Tumbrep ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang jelas kepada masyarakat dan pemerintah desa mengenai kondisi kualitas air tanah, mengidentifikasi penyebab pencemaran air tanah untuk kemudian dapat diambil langkah yang sesuai, serta menjadi dasar dalam membuat kebijakan dan regulasi yang berkaitan dengan pengelolaan air tanah yang lebih optimal,” tekannya.

Selain itu, mahasiswa tersebut juga menyusun peta pemanfaatan lahan Desa Tumbrep yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan. Lahan memiliki keterkaitan yang erat dengan kehidupan manusia karena berfungsi sebagai tempat untuk melakukan berbagai aktivitas, terutama kegiatan ekonomi. Lebih dari itu, lahan juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi tergantung pada lokasi dan posisinya.

“Pertumbuhan populasi yang terus meningkat disertai dengan ekspansi kegiatan ekonomi akan memberikan dampak terhadap fungsi suatu kawasan. Kejadian ini dapat diamati secara langsung di wilayah perkotaan. Wilayah perkotaan memiliki karakteristik aktivitas non-agraris sehingga pemanfaatan lahan didominasi oleh sektor sekunder dan tersier seperti industri, perdagangan dan jasa, perkantoran dan aktivitas lainnya. Kawasan perkotaan juga telah dilengkapi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah yang mencakup pengaturan penggunaan lahan secara menyeluruh dan memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi”.

Peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi yang berdampak pada fungsi kawasan tidak hanya berlangsung di area perkotaan tetapi juga di kawasan pedesaan. Kawasan pedesaan atau rural area memiliki ciri khas aktivitas agraris sehingga pemanfaatan lahan didominasi oleh area persawahan beserta fungsi-fungsi pendukungnya seperti permukiman, fasilitas kesehatan, pendidikan dan sebagainya.

“Desa Tumbrep merupakan salah satu desa di Kecamatan Bandar yang belum memiliki peta pemanfaatan lahan desa. Hal ini dipandang penting untuk direalisasikan guna mengetahui distribusi penggunaan lahan desa dan berbagai aktivitas yang berlangsung di dalamnya. Oleh karena itu, kegiatan ini sangat tepat dijadikan sebagai program KKN, karena akan memberikan informasi berharga kepada warga desa khususnya perangkat pemerintahan desa”.

Program kerja penyusunan Peta Pemanfaatan Lahan ini diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan bagi pemerintah dan pihak-pihak terkait sebagai dasar dalam menyusun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) suatu wilayah. Peta ini dapat digunakan sebagai panduan dalam merumuskan program pembangunan desa seperti infrastruktur, pengembangan sektor pertanian dan pariwisata.

Disisi lain dilakukan pembuatan peta kemiringan lereng, dilakukan melalui analisis data Digital Elevation Model (DEM) yang diperoleh dari citra satelit. Data elevasi tersebut kemudian diolah menggunakan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk menghasilkan klasifikasi kemiringan lereng berdasarkan standar yang berlaku, seperti klasifikasi van Zuidam yang membagi kemiringan menjadi beberapa kelas mulai dari datar (0-2%), landai (2-7%), agak curam (7-15%), curam (15-30%), sangat curam (30-70%), hingga terjal (>70%). Peta kemiringan lereng ini kemudian diintegrasikan dengan data geologi, jenis tanah, curah hujan, dan tutupan lahan untuk menghasilkan peta zonasi risiko tanah longsor.

Implementasi peta kemiringan lereng sebagai instrumen mitigasi bencana tanah longsor di Desa Tumbrep memberikan manfaat strategis dalam perencanaan tata ruang dan sistem peringatan dini. Peta ini menjadi acuan utama dalam menentukan zona-zona yang memerlukan perhatian khusus, seperti pembatasan aktivitas pembangunan pada lereng dengan kemiringan di atas 40%, penerapan teknik konservasi tanah dan air pada lereng sedang hingga curam.

Dan adanya Peta Administrasi Desa Tumbrep ini menyediakan informasi mengenai batas-batas wilayah administratif, pembagian dusun atau pedukuhan, lokasi fasilitas umum seperti balai desa, sekolah, puskesmas, dan tempat ibadah, serta jaringan infrastruktur jalan yang menghubungkan antar wilayah dalam desa. Dengan adanya peta administrasi ini, perencanaan jalur evakuasi dapat dilakukan secara optimal dengan mempertimbangkan jarak terdekat dari setiap pemukiman menuju titik kumpul yang aman.

Editor: Handayat