JATENGKU.COM, Kalipancur — Singkong dan pisang yang selama ini tumbuh sebagai tanaman sampingan di lahan dan pekarangan warga Desa Kalipancur umumnya hanya dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga atau dijual dalam bentuk mentah dengan nilai ekonomi yang relatif rendah. Tidak jarang, hasil panen tersebut bahkan terbuang karena tidak terserap pasar. Kondisi ini mencerminkan tantangan umum di wilayah perdesaan, di mana keterbatasan pengolahan pascapanen masih menjadi penghambat peningkatan pendapatan masyarakat.

Merespons kondisi tersebut, salah satu mahasiswa KKN UNDIP Tim I Kelompok 44, Szelya Naurah Ananditto menginisiasi program kerja bertajuk “Pengembangan Produk Olahan Singkong dan Pisang sebagai Usaha Baru Berbasis Potensi Lokal Desa Kalipancur”. Program ini dirancang sebagai upaya awal mendorong peningkatan nilai tambah komoditas lokal melalui pengolahan pangan sederhana yang aplikatif dan mudah direplikasi oleh masyarakat.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin, 19 Januari 2026 ini melibatkan masyarakat Desa Kalipancur dalam sesi pelatihan dan praktik langsung pengolahan singkong dan pisang. Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif, dengan tujuan tidak hanya memperkenalkan produk, tetapi juga membangun pemahaman mengenai pentingnya diversifikasi olahan sebagai strategi penguatan usaha mikro dan rumah tangga.

Dalam pelaksanaannya, diperkenalkan dua contoh produk olahan, yaitu Banoffee berbahan dasar pisang dan Singkong Thailand. Kedua produk dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan utama: ketersediaan bahan baku lokal, proses produksi yang relatif sederhana, serta potensi penerimaan pasar yang cukup luas. Banoffee diolah dari pisang matang yang kerap tidak terjual, kemudian dipadukan dengan lapisan biskuit, karamel, dan krim, menghasilkan produk dessert modern dengan nilai jual lebih tinggi. Sementara itu, Singkong Thailand dihadirkan sebagai alternatif olahan singkong dengan saus santan manis yang memberikan variasi cita rasa dibandingkan olahan tradisional.

Selama kegiatan berlangsung, masyarakat terlihat antusias mengikuti seluruh tahapan pengolahan, mulai dari persiapan bahan baku, proses produksi, hingga penyajian produk akhir. Interaksi dua arah antara mahasiswa dan warga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran, sekaligus membuka ruang diskusi mengenai peluang pengembangan usaha rumahan berbasis pangan lokal.

Mahasiswa KKN UNDIP Tim I Kelompok 44 bersama masyarakat Desa Kalipancur melaksanakan praktik pengolahan singkong dan pisang sebagai tanaman sampingan petani.

Program ini sejalan dengan berbagai kajian yang menekankan bahwa peningkatan nilai tambah komoditas pertanian melalui pengolahan pascapanen merupakan salah satu kunci penguatan ekonomi desa. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat bahwa pengolahan sederhana pada produk pertanian dapat meningkatkan nilai ekonomi hingga dua hingga tiga kali lipat dibandingkan penjualan bahan mentah. Selain itu, Kementerian Koperasi dan UKM juga menekankan pentingnya inovasi produk dan diferensiasi olahan sebagai strategi peningkatan daya saing UMKM perdesaan.

Melalui program kerja ini, berharap singkong dan pisang tidak lagi dipandang semata sebagai tanaman sampingan, melainkan sebagai sumber peluang usaha yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Dengan dukungan pengetahuan pengolahan yang tepat, potensi lokal Desa Kalipancur diharapkan mampu berkontribusi dalam peningkatan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat basis UMKM desa.

Penulis: Szelya Naurah Ananditto

Editor: Handayat

Tag