JATENGKU.COM, KLATEN – Tiga pelaku UMKM di Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, kini selangkah lebih maju dalam memasarkan produk mereka. Berkat pendampingan dari sabrina dan Jannah dari Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 44 Universitas Diponegoro, yang dilaksanakan pada tanggal 26 Juli 2025 kemarin, para pelaku usaha telah mendapatkan pelatihan kusus dalam penggunaan aplikasi WhatsApp Business untuk memperluas pasar dan meningkatkan penjualan, serta pemanfaatan Google My Business (GMB) untuk meningkatkan visibilitas lokasi usaha

Pada program Pelatihan Pemasaran Digital Sederhana bagi Ibu Rumah Tangga melalui WhatsApp Business yang dibuat Sabrina dan Pemanfaatan Google My Business (GMB) untuk Peningkatan Visibilitas Lokasi Sentra Penjualan UMKM yang dibuat Jannah, Program ini menyasar tiga pelaku UMKM dengan bidang usaha berbeda, yaitu Bu Dian (pemilik usaha Belut Grosir), Bapak Slamet Riyadi atau yang akrab disapa Pak Bagong (produsen Lompya Duleg), dan Pak Budi (pemilik angkringan di pusat keramaian desa). Selama bertahun-tahun, pemasaran produk mereka masih mengandalkan metode tradisional seperti penjualan langsung atau promosi lewat obrolan di WhatsApp biasa.

Melalui program ini, Tim KKN-T memperkenalkan WhatsApp Business sebagai platform promosi yang mudah digunakan namun memiliki dampak signifikan. Para pelaku UMKM dilatih untuk membuat akun bisnis resmi, melengkapi profil usaha, membuat katalog produk lengkap dengan foto, harga, dan deskripsi, serta mengatur pesan otomatis agar pelanggan dapat dilayani dengan cepat.

“WhatsApp Business itu gratis, fiturnya lengkap, dan mudah dipakai. Kalau dimanfaatkan dengan baik, UMKM bisa terlihat lebih profesional dan dipercaya pembeli baru,” jelas Sabrina salah satu anggota Tim KKN-T IDBU 44.

Mahasiswa KKN Undip berfoto bersama Ibu Dian, pemilik usaha Belut Grosir, di Desa Gatak, Klaten. Pendampingan ini berfokus pada pelatihan pemasaran digital, termasuk pembuatan katalog produk di WhatsApp Business dan pendaftaran lokasi di Google My Business (GMB).

Selain pelatihan teknis, tim juga melakukan pendampingan langsung di rumah masing-masing peserta. Pada kunjungan pertama ke rumah Bu Dian, tim membantu membuat akun WhatsApp Business di tiga perangkat berbeda agar jangkauan pelayanan lebih luas. Katalog produk belut segar dan olahan belut pun langsung dibuat, sehingga pembeli bisa memilih langsung dari katalog tanpa perlu menunggu kiriman foto satu per satu.

Selain itu, usaha Bu Dian juga langsung didaftarkan ke Google My Business. Melalui GMB, lokasi usahanya kini bisa ditemukan di Google Maps lengkap dengan foto produk, jam buka, dan ulasan pelanggan. Bu Dian mengaku, “Oh ternyata itu berguna untuk melihat rating dan kalau orang mau cari alamatnya jadi gampang.”

Mahasiswa KKN Undip berfoto bersama Bapak Slamet Riyadi, pemilik Lumpia Duleg, di Desa Gatak, Klaten. Kunjungan ini merupakan bagian dari pendampingan pembuatan katalog digital untuk promosi di WhatsApp Business dan Google My Business (GMB).

Kunjungan berikutnya ke rumah Pak Slamet Riyadi difokuskan pada pengaturan katalog Lompya Duleg. Berbagai varian lumpia difoto dengan pencahayaan yang menarik, lalu diunggah ke katalog lengkap dengan harga dan deskripsi singkat. “Sekarang kalau ada yang tanya, saya tinggal kirim katalog. Lebih cepat, dan pelanggan juga jadi tahu semua menu yang saya jual,” kata Pak Slamet. Selain katalog di WhatsApp Business, lokasi produksi Lompya Duleg juga dimasukkan ke GMB, sehingga pelanggan dari luar desa dapat dengan mudah menemukan lokasinya melalui pencarian di Google.

Mahasiswa KKN Undip berfoto bersama Bapak Budi, pemilik angkringan, di Desa Gatak, Klaten.

Pendampingan terakhir dilakukan di angkringan milik Pak Budi. Selain membuat katalog menu, tim juga membentuk grup WhatsApp pelanggan. Grup ini dimanfaatkan untuk berbagi informasi menu terbaru, promo mingguan, hingga koordinasi pesanan untuk acara tertentu. Dengan lokasi usaha yang strategis, grup pelanggan ini diharapkan bisa membantu meningkatkan omzet secara signifikan.

Pada saat memperkenalkan GMB, Pak Budi bertanya, “Tapi ini gratis atau bayar?” yang langsung dijawab Jannah, “Dijamin gratis, Pak.” Salah satu peserta lain yang hadir menimpali, “Oh saya baru tahu kalau ternyata bisa seperti itu.” Kini angkringan Pak Budi juga memiliki profil GMB yang memuat foto tempat, jam buka, dan rute menuju lokasi.

Dampak positif langsung terasa. Para peserta mengaku kini lebih percaya diri memasarkan produk secara digital. Waktu promosi menjadi lebih efisien, komunikasi dengan pelanggan lebih lancar, dan citra usaha pun terlihat lebih profesional. Meski demikian, beberapa kendala seperti kesulitan mengunggah foto berkualitas dan menulis deskripsi produk masih ditemui. Untuk mengatasi hal ini, tim KKN-T melakukan kunjungan lanjutan disertai demonstrasi langsung cara memotret produk dan mengelola katalog.

“Awalnya saya pikir ribet, tapi ternyata gampang. Apalagi sekarang kalau mau cek pesanan dan stok, saya tinggal buka aplikasi,” ungkap Bu Dian sambil menunjukkan katalog belut di ponselnya.

Ke depan, program ini diharapkan menjadi langkah awal transformasi digital bagi UMKM di Desa Gatak. Tidak hanya membantu promosi produk seperti belut, Lumpia Duleg, dan menu angkringan, tetapi juga mendorong terciptanya jaringan pemasaran yang lebih luas. Dengan memanfaatkan teknologi sederhana namun efektif seperti WhatsApp Business, UMKM diharapkan mampu bertahan dan bersaing di tengah ketatnya persaingan pasar.

Editor: Handayat