JATENGKU.COM, SEMARANG – Isu ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi mikro menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program KKN-T UNDIP SEHAT (Sertifikasi, Ekonomi, Halal, Ayam, Tembalang) oleh Tim KKN Tematik 131 Universitas Diponegoro.
Salah satu program unggulan dalam kegiatan ini adalah pendampingan sertifikasi halal kepada pelaku usaha mikro di sektor pangan, khususnya Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menjual produk olahan makanan berbasis nabati dan hewani.
Salah satu mitra yang menjadi fokus utama adalah PKL Liberti Pukis, yang berjualan di Jl. Prof. Soedarto, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa tidak hanya memberikan pendampingan dalam proses pengajuan sertifikasi halal, tetapi juga menjalankan dua program kerja berbasis geospasial yang mendukung upaya ketahanan pangan dan penguatan ekonomi mikro.
Analisis Rute Optimal Bahan Baku: Efisiensi untuk Ketahanan Pangan Mikro
Program pertama yang dijalankan adalah Analisis Distribusi Jaringan dan Rute Optimal Bahan Baku Pukis Menggunakan Network Analysis. Program ini bertujuan untuk memetakan jalur distribusi bahan pokok seperti tepung, gula, dan telur, yang menjadi komponen utama produksi pukis. Dengan pendekatan Network Analysis berbasis GIS, dilakukan analisis terhadap jaringan jalan guna menentukan rute pengadaan bahan baku paling efisien dari sisi waktu dan biaya.
“Efisiensi distribusi bahan baku tidak hanya menekan ongkos produksi, tetapi juga menjaga kestabilan pasokan. Ini penting untuk mendukung ketahanan pangan skala mikro,” ujar Waffa Fauzia, mahasiswa Teknik Geodesi Universitas Diponegoro yang menjadi pelaksana program.
Melalui hasil analisis ini, pelaku usaha seperti Liberti Pukis dapat mengakses informasi strategis mengenai pilihan jalur terbaik untuk mendapatkan bahan baku, sehingga produksi dapat berlangsung lebih lancar dan berkelanjutan.

Geotagging PKL Pukis di Google Maps: Aksesibilitas dan Pemberdayaan Ekonomi
Program kedua yang dilakukan adalah pemberdayaan ekonomi PKL melalui teknologi geotagging, khususnya pada pedagang pukis. Kegiatan ini dilakukan dengan melakukan penandaan lokasi usaha secara langsung di Google Maps, berdasarkan survei lapangan.
Titik koordinat yang telah dikumpulkan kemudian digunakan untuk membuat titik lokasi usaha yang bisa diakses secara digital. Peta ini tidak hanya mendukung penataan wilayah berbasis spasial, tetapi juga sebagai alat bantu untuk meningkatkan visibilitas dan aksesibilitas usaha kecil di tengah masyarakat.
“Dengan geotagging, masyarakat bisa lebih mudah menemukan lokasi pedagang. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi tentang memperkuat eksistensi ekonomi lokal,” jelas Waffa
Pemanfaatan geotagging di Google Maps menjadi bagian dari strategi penguatan identitas usaha, yang dapat mendorong peningkatan jumlah pelanggan dan menciptakan peluang ekspansi skala mikro.
Penulis: Waffa Fauzia, TIM KKNT 131









