JATENGKU.COM, BATANG – Dusun Rembul merupakan salah satu dusun di Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Dusun Rembul merupakan salah satu dari delapan dukuh di Desa Tumbrep yang menjadi lokasi penerjunan KKN (Kuliah Kerja Nyata) Tim 50 Universitas Diponegoro tahun 2025. Dusun Rembul ini memiliki berbagai potensi, mulai dari sektor pertanian, peternakan, dan UMKM yang dikelola oleh masyarakat.
Mayoritas mata pencaharian warga Dusun Rembul adalah sebagai petani dikarenakan lahan yang terdapat di dusun ini tergolong subur. Banyak masyarakat yang memanfaatkan lahan yang subur tersebut untuk bercocok tanam. Tanaman yang banyak dibudidayakan di Dusun ini diantaranya adalah jagung, singkong dan padi.
Akan tetapi sisa hasil samping atau limbah dari sektor peternakan tersebut masih banyak dibuang atau dibakar sehingga berdampak pada kondisi lingkungan. Limbah seperti klobot jagung, kulit singkong, masih dapat dioptimalkan lagi agar tidak mencemari lingkungan dan lebih bermanfaat dengan metode pengolahan tertentu.
Sebagian besar warga di dusun ini juga memiliki ternak yang dipelihara sebagai penghasilan tambahan. Komoditas ternak yang banyak dikembangkan di Dusun Rembul adalah ternak ruminansia yaitu kambing dan domba.
Tantangan yang banyak dihadapi oleh warga yang memelihara ternak adalah tingginya biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan pakan dari ternak. Rata-rata peternak yang ada di Dusun Rembul memilih untuk mengarit rumput sebagai pakan ternak.
Saat kemarau maupun musin penghujan menyulitkan peternak dalam mengarit sehingga peternak harus mengarit setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan ternak. Untuk itu peternak dapat mengolah rumput odot yang memiliki nutrisi cukup bagi ternak sebagai pakannya.

Dalam menghadapi potensi dan tantangan tersebut, mahasiswa Tim 50 KKN-T UNDIP memberikan penyuluhan dan demonstrasi secara langsung kepada warga tentang teknik pengolahan limbah pertanian menjadi pakan ternak dengan metode fermentasi. Warga diajarkan cara membuat silase rumput odot, fermentasi klobot jagung, dan kulit singkong.
Alat dan bahan yang digunakan juga tergolong murah dan mudah didapatkan, diantaranya yaitu molases, EM4 peternakan, dedak, dan plastik kedap udara. Perbedaan yang dari pakan fermentasi dan silase terdapat pada lama penyimpanan untuk proses fermentasinya, dimana silase membutuhkan waktu 21 hingga 30 hari sedangkan fermentasi hanya 7 sampai 10 hari.
Dengan pengolahan limbah tersebut tentunya dapat mengurangi limbah yang dapat mencemari lingkungan. Pengolahan limbah pertanian sebagai pakan ternak dengan metode fermentasi ini juga dapat menekan biaya pakan sebesar 30-50%. Ditambah lagi metode fermentasi akan meningkatkan kandungan nutrisi pada pakan yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi harian ternak.
Tidak hanya limbah pertanian, limbah dari sektor peternakan juga dapat dimanfaatkan. Limbah dari kandang seperti kotoran kambing dan domba dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah. Mahasiswa Tim 50 KKN-T UNDIP juga mengajarkan pengolahan kotoran hewan menjadi pupuk organik cair.
Pupuk organik dipercaya lebih aman bagi makhluk hidup dan lingkungan sekitar dibandingkan dengan pupuk kimia yang banyak diperjual belikan. Pupuk organik cair juga dapat meningkatkan kesuburan tanah dan mikroorganisme, memperbaiki strktur tanah dan mempercepat pertumbuhan tanaman serta lebih ramah lingkungan.
Pembuatan pupuk organik cair tergolong mudah dengan memanfaatkan kotoran kambing, air, molases dan EM4 pertanian. Cara pembuatan Pupuk Cair Organik dari kotoran kambing/domba dimulai dengan mencampurkan kotoran kambing segar dengan air pada drum atau wadah tertutup yang dapat dibuka, kemudian menambahkan EM4 dan molases yang sudah dilarutkan dengan air, tahap terakhir adalah menutup rapat tutup selama 7-14 hari untuk fermentasi, setiap 2 hari dilakukan pengadukan untuk mengeluarkan gas yang terbentuk selama proses fermentasi. Pengaplikasian hasil dari pupuk organik cair ini dengan cara melarutkan dalam air dengan perbandingan 1:10 lalu disiramkan pada tanah sebelum dilakukan penanaman.
Pelaksanaan penyuluhan dengan metode edukatif dan partisipatif dilaksanaan pada tanggal 18 Juli 2025. Sebelum dilakukan demonstrasi pembuatan pakan fermentasi dan pupuk organik cair, para petani dan peternak juga diberikan materi mengenai pentingnya pemberian pakan sesuai kebutuhan nutrisi ternak dan gejala penyakit ternak. Setelah demonstrasi warga juga diberikan luaran program berupa leaflet yang berisikan alat dan bahan serta langkah-langkah pembuatan silase,pakan fermentasi dan pupuk organik cair.
Penulis: Chandra Winata Hapsari, Mahasiswa Jurusan Peternakan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro











