JATENGKU.COM, DEMAK — Desa Menur, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, merupakan desa agraris dengan komoditas utama padi dan jagung. Namun, produktivitas pertanian masyarakat menghadapi tantangan seperti serangan hama burung, minimnya pemanfaatan teknologi, serta kurangnya tata kelola ruang yang optimal.

Sebagai bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa Kelompok B TIM 62 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik IDBU Universitas Diponegoro di Desa Menur, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, melaksanakan serangkaian program multidisiplin untuk memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan ketahanan pangan berbasis inovasi, edukasi, dan pendekatan sosial.

Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memperluas pengetahuan para petani di Desa Menur mengenai berbagai aspek pertanian mulai dari pemupukan, pengelolaan lahan, hingga pemasaran hasil panen. Tak kalah penting, program ini mengenalkan inovasi teknologi kepada para petani di desa dengan harapan dapat mendorong transformasi pertanian desa yang lebih tangguh, modern, dan berkelanjutan.

Kegiatan dimulai dengan observasi lapangan, pemetaan permasalahan, dan koordinasi dengan pemerintah desa, dan kelompok tani setempat. Tahap ini dibutuhkan untuk memahami kebutuhan yang diperlukan masyarakat agar program yang dijalankan tepat sasaran.

Berdasarkan observasi lapangan dan wawancara dengan narasumber yang ada di Desa Menur, burung merupakan hama yang paling mengganggu dan merugikan sehingga hasil panen petani cenderung rendah. Oleh karena itu, mahasiswa KKN TIM 62 Kelompok B memberi solusi inovatif berupa alat pengusir burung tenaga surya dan angin, yang memadukan reflektor pemantul cahaya dan speaker ultrasonik bertenaga matahari.

Alat ini mampu mengusir burung secara terus-menerus tanpa merusak lingkungan dan tanpa biaya operasional tinggi. Kehadiran alat ini disambut antusias oleh para petani yang selama ini bergantung pada metode tradisional seperti orang-orangan sawah dan suara kaleng yang terbukti tidak lagi efektif.

Mahasiswa KKN TIM 62 Kelompok B juga turut serta secara langsung dalam kegiatan penanaman jagung bersama kelompok tani Desa Menur. Keterlibatan ini tidak hanya sebagai bentuk dukungan terhadap aktivitas pertanian warga, tetapi juga menjadi sarana untuk memahami tantangan nyata yang dihadapi petani di lapangan. Selama proses penanaman, KKN TIM 62 Kelompok B menemukan adanya kebutuhan inovasi alat bantu tanam yang lebih efisien.

Alat penanam jagung yang sebelumnya digunakan petani dirasa masih memerlukan banyak tenaga dan waktu, serta kurang praktis dalam penggunaannya. Menanggapi hal tersebut, mahasiswa kemudian mengembangkan dan memperkenalkan alat penanam jagung manual yang dirancang untuk mempermudah proses penanaman. Alat ini memungkinkan petani untuk menanam jagung secara lebih cepat, teratur, dan hemat tenaga kerja.

Inovasi ini juga mendukung prinsip pertanian ramah lingkungan karena tidak bergantung pada bahan bakar maupun listrik dalam pengoperasiannya. Solusi sederhana namun efektif ini diharapkan dapat membantu petani meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja di lahan pertanian, serta menjadi salah satu langkah nyata menuju pertanian yang berkelanjutan di Desa Menur.

Dalam mendukung ketahanan pangan melalui sektor pemupukan, Mahasiswa KKN TIM 62 Kelompok B Universitas Diponegoro melaksanakan sosialisasi penggunaan pupuk Nanosilika Mestaku kepada masyarakat desa. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja unggulan yang bertujuan memperkenalkan teknologi pertanian ramah lingkungan berbasis nanoteknologi.

Pupuk Nanosilika Mestaku diformulasikan dengan partikel silika berukuran <10 nanometer yang mudah diserap tanaman, sehingga dapat memperkuat struktur tanaman serta mengurangi kebutuhan pupuk Nitrogen dan Fosfat hingga 50% dari dosis standar. Petani yang telah mencoba mengaku puas karena tanaman terlihat lebih kokoh, sehat, dan segar.

A collage of two people AI-generated content may be incorrect.
Beragam kegiatan KKN Undip di Desa Menur, Demak, dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan. Foto-foto tersebut menunjukkan inovasi alat pengusir burung, praktik penanaman jagung bersama petani, sosialisasi pupuk nanosilika, hingga pemetaan lahan pertanian.

Pupuk ini dapat diaplikasikan pada berbagai jenis tanaman pangan, hortikultura, maupun perkebunan, serta mendukung praktik pertanian berkelanjutan yang efisien dan hemat biaya. Beberapa manfaat utama yang ditawarkan antara lain memperkuat akar dan batang agar tidak mudah roboh, meningkatkan ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta membuat daun lebih lebar dan tidak mudah rontok.

Selain itu, pupuk ini juga fleksibel karena dapat dicampur dengan nutrisi, pestisida, atau fungisida tanpa mengurangi efektivitasnya. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan petani dapat mulai beralih ke metode pemupukan yang lebih modern, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari penguatan manajemen pertanian, Mahasiswa KKN TIM 62 Kelompok B  juga mengedukasi masyarakat melalui penerapan prinsip 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) dalam penataan gudang pertanian. Bersama kelompok tani, mahasiswa menyusun ulang penyimpanan alat dan pupuk agar lebih efisien, serta memasang media edukatif sebagai pengingat visual.

Program lain yang turut mendukung pembangunan berkelanjutan adalah pemetaan spasial lahan pertanian. Mahasiswa KKN TIM 62 Kelompok B menyusun peta penggunaan lahan Desa Menur berbasis data lapangan dan OpenStreetMap. Diharapkan, peta ini dapat dimanfaatkan sebagai alat perencanaan dan edukasi oleh pemerintah desa, sekolah, dan kelompok tani dalam mewujudkan pengelolaan lahan yang lebih efisien, produktif, dan ramah lingkungan serta membantu masyarakat memahami distribusi lahan produktif serta pentingnya pengelolaan ruang secara bijak untuk menunjang ketahanan pangan jangka panjang.

Selain itu, Mahasiswa KKN TIM 62 Kelompok B juga melakukan pengujian pH tanah untuk mengetahui tingkat kesuburan lahan. Informasi ini menjadi dasar penting dalam penentuan jenis tanaman atau varietas yang cocok, menghindari potensi keracunan akibat ketidakseimbangan unsur hara tertentu, serta memberikan panduan dalam pemberian pupuk dan pestisida. Dengan pemahaman ini, petani dapat meningkatkan hasil panen baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Hasil uji pH di Desa Menur menunjukkan kisaran pH 6,7–7. Nilai ini tergolong netral dan ideal untuk berbagai jenis tanaman, seperti padi, jagung, gandum, dan kedelai.

Sebagai upaya pelestarian budaya dan peningkatan identitas lokal, Mahasiswa KKN TIM 62 Kelompok B juga memproduksi video etnografi yang mendokumentasikan kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Menur. Video ini menampilkan berbagai aktivitas khas desa, mulai dari kegiatan bertani, gotong royong, hingga interaksi sosial antarwarga yang mencerminkan kearifan lokal.

Selain itu, video ini juga memuat penjelasan mengenai sejarah Desa Menur yang dihimpun dari narasi warga setempat serta tokoh masyarakat. Diharapkan, video ini tidak hanya menjadi arsip budaya yang berharga bagi desa, tetapi juga dapat menjadi media promosi potensi lokal serta edukasi bagi generasi muda dalam mengenal dan mencintai desanya sendiri.

Seluruh program dijalankan dengan dukungan aktif dari masyarakat Desa Menur. Para petani terlibat langsung dalam uji coba alat, wawancara, hingga sosialisasi yang dilakukan bersama mahasiswa. Kelompok tani menunjukkan antusiasme dalam memperbaiki sistem penyimpanan, mencoba metode pemupukan baru, dan memanfaatkan hasil pemetaan lahan.

Masyarakat menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa KKN yang telah memberikan dampak nyata melalui pendekatan yang bersahabat dan solutif. Mereka berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut, agar generasi muda desa semakin terbuka terhadap teknologi pertanian dan termotivasi untuk berkontribusi dalam membangun sektor pertanian yang lebih baik di daerahnya sendiri.

Editor: Handayat